DI MANAKAH LETAK ASYIKNYA MENGAJAR FISIKA?

Hampir genap empat tahun saya mengabdi sebagai guru tidak tetap di SMAN 1 Palangka Raya, akhirnya surat keputusan Menteri mengenai penempatan calon pegawai negeri sipil yang diberikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tiba dan saya ditempatkan di SMAN 2 Palangka Raya hingga sekarang. Kejadian itu sekitar dua puluh tahun lampau, tepatnya di akhir bulan april 2001. Saya lulus dari Universitas Palangka Raya pada tahun 1999 dan menjalani penghidupan sebagai guru fisika yang sarat tuntutan dan beban untuk mengajarkan fenomena alam mengenai energi dan perubahannya hingga sebab akibat fenomena ilmu alam secara fisik. 

Saya memasuki bangku perguruan tinggi negeri juga dengan perjuangan yang cukup berat hingga akhirnya bisa menjadi sarjana pendidikan dan menerapkan hasil perkuliahan saya kepada siswa SMA. Semenjak pengalaman praktik lapangan, siswa SMA sudah merasakan alergi dan ketidakmauan mempelajari mata pelajaran Fisika ini. Sehingga mata pelajaran ini merupakan salah satu momok terbesar yang mengalahkan ketakutan mereka terhadap matematika dan kimia. Dibanding dari mata pelajaran ilmu alam lainnya, perbedaan fisika ini adalah penggunaan rumusan dan bahasa matematika yang lebih intensif dibandingkan senyawa dan sebutan dalam bahasa latin serta penggambaran sel atau molekular atom dan perangkatnya. 

Guru Fisika dipandang siswa identik dengan seseorang entah berjenis kelamin Laki-Laki atau Perempuan yang galak, sangar, tidak bisa kompromi, membosankan, kaum ketinggalan zaman, kaum bohemian, guru yang tidak asyik, feodalistik, dan seabrek istilah kurang mengenakan untuk sebutan guru fisika. Ingatkan kita dengan cerita novel Lupus yang beredar di tahun 90an yang mengidentikan guru Fisika, yang ditulis Hilman sebagai Mr Punk atau Bapa Pangaribuan itu adalah seorang yang pemarah dan tegas walau akhir-akhir ceritanya menuliskan bahwa Pa Pangaribuan mesti mencari nafkah tambahan sebagai supir tembak taksi penumpang untuk menambal penghasilannya sebagai guru Fisika di SMA Swasta Merah Putih, dalam cerita itu. 

Saya pun generasi 90an, yang pernah getol membaca majalah HAI, tahu tentang gaya remaja ala Melawai dan macam pernak pernik remaja ketika itu. Saya pun sempat diutus sebagai siswa teladan SMA mewakili Kalimantan Tengah angkatan 90 ketika saya duduk di kelas 2 SMA. Saya merasakan style Melawai tersebut ketika memperingati HUT RI ke- 45 tersebut. Lamunanku menerawang akan masa-masa lalu tentang Guru Fisikaku yang gondrong dan urakan tapi cerdas cerdik cendekia, Hari Sasongko, namanya. Imajinasiku tentang sosok beliau inilah yang mendorongku memasuki pergerakan pembelajaran Fisika ke Universitas Palangka Raya tersebut setelah kegagalanku melamar kuliah ke UGM dan STT Telkom ketika itu akhirnya membentuk diriku menjadi guru Fisika yang semestinya kepada setiap peserta didiknya. 

Aku tidak menyesal sampai sekarang telah berkutat menjadi guru Fisika sebagaimana guru idolaku tersebut yang kini keberadaannya pun aku tak tahu dan tak pernah menemuinya dalam beragam sosial media atau Whatsapp. Jikalau ada yang memberitahukan pun barangkali Beliau lupa bahwa saya pernah menjadi muridnya. Tapi tiap gerak-geriknya yang lugas, simpel, energik dan efisien membentuk kontur saya sebagai guru fisika yang berbeda dibanding lainnya. 

Saya melihat cakupan permasalahan bukan karena anak-anak ini enggan belajar, tetapi karena pendekatan pembelajaran kepada mereka yang tidak sesuai dengan kondisi dan kehendak mereka. Anak-anak sekarang adalah pembelajar milenial yang berbeda dengan pelajar tahun 90an awal dan 90an akhir menjelang 2000an atau generasi Y2K. 

Selesai praktik pengalaman lapangan di SMAN 1 Palangka Raya saya diajak menjadi guru tetap di sana hingga SK saya terbit, di masa itu komputer hanya dikenal untuk menyelesaikan kegiatan administrasi, untuk mengetik dan mencetak. Saya sudah memilikinya dan tidak bisa diterapkan dalam kegiatan pembelajaran fisika, maka saya harus banyak membaca dan membuka wawasan tentang mengajarkan fisika yang realistik dan memerikan penjelasan sedetail semudah mungkin dicerna dalam benak generasi Y2K ini. Terkadang bukan percobaan karena kebanyakan teoritis Fisikalis dinyatakan dalam kapur dan carta karton semata. Yang diperberat adalah tuntutan perbaikan nilai Akhir Evaluasi Belajar Tahap Nasional yang mematok bandrol nilai fisika minimal mencapai kriteria B. 

Tidak semua tantangan itu dapat dicapai kepada semua siswa, maka mereka dilatih, di-drill, diberikan latihan soal dan ujian-ujian dengan kemiripan soal-soal yang mungkin mereka hadapi mendekati soal-soal EBTA/EBTANAS tersebut. Maka beramai-ramailah suasana pelajaran tambahan secara umum maupun secara privat, saya sempat tertolong dalam penghidupan ekonomi saya karena keadaan ini sampai dengan tahun 2006. Yang kemudian serta merta Ujian Nasional berubah-ubah drastis sesuai dengan kebijakan yang membingungkan, ada yang hanya tiga mata pelajaran dan akhirnya diujikan menggunakan berbasis komputer sebelum kebijakan Ujian Nasional ini dihapuskan di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo  dan memilih Menteri Pendidikan dari kalangan praktisi bukan akademisi, itulah akhir dari Ujian Nasional yang konon memetakan pendidikan tetapi sangat menentukan kelulusan siswa.

Persoalan mata pelajaran Fisika ini walau ujian nasional itu dihapuskan tidak berhenti sedemikian sama seperti roda pedati yang berhenti berputar, melainkan muncul lagi tuntutan lain yakni kemapanan siswa SMP dan SMA dalam mencapai hasil penilaian penguasaan sains (fisika, kimia, biologi) masih kalah jauh dengan siswa SMP dan SMA dari negeri-negeri tetangga sekawasan Asia apalagi jika dibandingkan dengan kontinen lainnya. Kembali siswa ini dipatok wajib memenuhi standarisasi penilaian yang sekiranya melebihi negara-negara berkembang lainnya. 

Secara sektoral siswa-siswa yang saya ajar ini merupakan sampel dari kaum peserta didik yang bisa sewaktu-waktu dibidik dan dipilih dalam mengikuti Asesmen Nasional atau Asesmen Kompetensi yang bertujuan memetakan ketercapaian standarisasi penguasaan sains secara nasional, sekiranya juga bisa melampaui negara-negara sekawasan hingga benua biru dan benua hijau lainnya. Strategi global perlu saya terapkan berlandaskan tekad meningkatkan daya saing pelajar di kota kecil kami, Palangka Raya ini. 

Kesulitan pembelajaran fisika yang dulunya berdasarkan stereotipe guru pengajarnya, perlahan-lahan berubah sesuai dengan kemajuan teknologi dan informasi, ditunjang sarana prasarana telekomunikasi di kota kami dan juga bantuan pemerintah kepada sekolah kami termasuk dukungan dana dan sarana prasarana dari orang tua peserta didik melalui Komite Sekolah. Paradigma bahwa guru Fisika itu gaptek perlahan-lahan tersingkirkan karena, guru Fisika sama seperti guru lain harus cerdik memanfaatkan banyaknya sarana pembelajaran yang efektif efisien untuk dimanfaatkan dan mencerdaskan kehidupan akademik putra putri bangsa. 

Kesulitan pembelajaran Fisika di kelas saya, perlahan-lahan merangkak membaik dengan pemanfaatan blog guru fisika melalui situs fisikarudy.id, selain itu kami memanfaatkan sosial media yang ada untuk menyebarkan informasi dan pengetahuan juga komunikasi remeh temeh bahwa kedekatan antara siswa dengan guru juga alumni tidak berjurang, kami sering menyapa dan berkomunikasi satu sama lain melalui instagram, twitter bahkan facebook. 

Dengan adanya perkembangan YouTube sebagai lumbung video untuk belajar mandiri dan mematrikan eksistensi kegiatan fisika di kelas atau di luar kelas perlu didokumentasikan sebagai benchmark ukuran capaian standar nasional Kementerian Pendidikan, Riset, dan Pendidikan Tinggi saat ini. 

Pembelajaran saya selama masa pandemi tetap berjalan aktif dan lancar selain menggunakan media-media yang biasa saya gunakan sejak tahun 2007 hingga saat ini, jika siswa mengalami kesulitan mereka berkolaborasi menggunakan Google Classroom karena kami mendapat bantuan akun belajar.id dari Kementerian Pendidikan bekerja sama dengan Google Workspace for Education. Juga kemudahan sebagai guru diperluas dengan bantuan Microsoft melalui Office365 yang kami peroleh melalui organisasi profesi Ikatan Guru Indonesia. 

Untuk hal-hal penilaian, tes, evaluasi harian selain saya memanfaatkan Google Classroom melalui Google Form atau pelaporan dalam Google Slides juga siswa bisa berinteraksi dengan saya melalui Jamboard dalam Google Workspace tadi, saya pun memanfaatkan Quizziz untuk menilai dan memberikan evaluasi serta penugasan interaktif sebab siswa saya dapat belajar menyelesaikan soal dan melihat cara penyelesaiannya melalui youtube dalam moda yang sama. 

Apakah pelajaran Fisika selama musim pandemi mengalami kemacetan di kelas Rudy Hilkya? Tidak sama sekali, sebab semua elemen dirancang untuk berinteraksi aktif satu sama lain. Jika kami hendak bertemu dan bertatap muka, apalagi saat ini Pertemuan Tatap Muka terbatas masih dilarang karena PPKM Level 4 masih dikenakan di Kota kami, maka kami pun memanfaatkan Zoom Interaktif dan Google Meeting. Jika cakupan yang diajak bicara terbatas maka kami memanfaatkan konferensi Whatsapp untuk bertegur sapa atau sekedar rapat kelas. 

Internet telah memberikan keleluasaan kepada guru-guru sains untuk menggapai pengajaran Fisika yang dinamis, interaktif dan berstandar internasional. Jikalau saya hendak melakukan percobaan virtual, maka saya menggunakan media youtube untuk memberikan contoh serta disebarluaskan melalui Instagram TV atau Reels serta Instastory yang kemudian para peserta didik diberi stimulus untuk mencoba secara mandiri melalui Phet Colorado, sebuah situs percobaan fisika yang digunakan guru-guru sains seluruh dunia. 

Komunikasi personal saya pun tak terhenti pada sosial media, saya pun mengaktifkan web blog wordpress, fisikarudy.id yang pernah meraih penghargaan Juara 1 se Indonesia pada Festival pendidikan Blog Edukasi Personal tahun 2008 yang diselenggarakan Pusat Telekomunikasi Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional dam blog ini pula mendapat penghargaan nasional berikutnya  menghantar saya menjadi Juara 2 Guru Era Baru yang diselenggarakan PT Acer Indonesia bersama Bapak Sukani dan Ibu Mugi Rahayu yang keduanya ada di pulau Jawa dan saya yang berasal dari Kalimantan Tengah. 

Keterbatasan kita sebagai guru, sebenarnya adalah ketidakmauan mencoba hal yang baru atau lebih tepat tidak berani mencoba resiko baru. Apa resiko baru itu? Kembali belajar dengan hal yang belum saya kuasai dan harus saya praktikan setiap hari. Menjadi guru sebenarnya bukan panggilan hidup saya, tetapi akhirnya guru jugalah profesi yang menyenangkan dan profesi yang dimuliakan untuk memanusiakan manusia yang saya emban dan pegang teguh sebagai bagian dari korps pengajar Indonesia. 

Melalui Guru Motivator Literasi, saya juga menunjukkan eksistensi bahwa selain guru Fisika yang piawai berteori dari mekanika hingga relativitas, dari gaya Newton, modeling ala Galileo sampai pada teori kuantum terbaru hingga inti nuklir serta mengajarkannya ala akrobatik di ruang kelas menggunakan papan tulis atau whiteboard elektronik dari microsoft dan Zoom serta MS Teams, saya pun harus eksis dengan menulis seperti yang saya ikuti saat ini. 

Guru Fisika bukan seseorang yang kaku dan ortodox, mata pelajaran yang saya ajarkan dan sudah dianggap kuno sebab lebih dari berabad-abad lampau masih dibahas dan masih mengalami perbaikan teori, faktual, asumsi, dan realita sebenarnya bukan pula pelajaran baku yang statis, vakuum dan quo vadis melainkan sebuah ilmu pengetahuan yang senantiasa diperbaharui oleh zaman dan penelitian-penelitian. 

Fisika itu Rumit, benar. Karena matematika-nya yang berpening-pening merotasi setiap variabel dan persamaan dengan berbagai elemen berhitung dan angka-angka numerik yang banyak membentuk kumpulan sampel dan populasi bilangan yang dicari kesalahannya membentuk ukuran memusat statistika, tetapi juga harus diuji kebenarannya dalam laboratorium yang tidak semua insitusi pendidikan memiliki kelengkapannya. 

Fisika itu rumit karena peralatan dan keterkaitan jejaringnya begitu crowd dan membentuk jejaring mesh yang pekat dan rapat, tanpa kelengkapan itu dengan kerjasama berbagai institusi maka keniscayaan penguasaan sains membaik masih sebuah dilematika yang tidak pernah berhenti di titik zenith sebagai sebuah kejayaan, apabila mulai dari diri seorang Guru Fisika tidak siap terjun dan berjibaku dengan segala hal yang baru yang dapat mendukung cara pembelajaran fisika yang terbarukan dan tidak ketinggalan zaman. 

Jangan sampai siswa-siswa kita menertawakan kelambanan dan keluguan kita sebagai guru, karena kita enggan untuk berubah dan bergerak maju. Sebagaimana kutipan dari Walt Disney yakni Keep Moving Forward. 

Demikian pula seorang Guru Fisika, melihat hal-hal yang menantang bukan masalah tetapi pertanyaan yang harus dijawab dan diselesaikan dengan baik, tenang, konsekuen serta efektif efisien sebagaimana resolusi pemanfaatan energi, Kekekalan Energi, Energi tidak dapat diciptakan dan Energi tidak dapat dimusnahkan, Energi bisa berubah bentuk menjadi kekuatan lain. 

Mari kita bertekad membangun pelajaran yang rumit ini menjadi mengasyikkan dan terlebih dahulu menjadi guru Fisika yang asyik.

Tulisan ini saya buat pada 19 Agustus 2021