KEMANUSIAAN

Photo by Adera Abdoulaye Dolo on Pexels.com

Kemanusiaan kita tercermin bahwa tindakan kita memang benar manusia. Sejak pertama keturunan dari Adam dan Hawa, melalui Kain dan Habel, perseteruan memperjuangkan penghargaan dari Allah telah jelas dan nyata. Karena iri terhadap persembahan yang diberikan kepada Allah, Kain sampai tega membunuh adiknya sendiri Habel dan selanjutnya Kain dibuang dari kaum manusia. Pertama kali dalam sejarah yang dituturkan dan kemudian dituliskan dalam kitab-kitab itu menjadi contoh bahwa kedagingan manusia ini lemah.

Apalagi jika ada kabar yang sangat tidak manusiawi, bahwa Ayah tega merudapaksa putrinya sendiri selama 6 tahun berturut-turut hingga putrinya itu sekarang berusia 18 tahun dan hamil 7 bulan. Kemanusiaan macam apalagi jika banyak kejadian seperti ini. Lebih cocoknya manusia yang telah berubah menjadi Manimal (Manusia Binatang) – serial yang muncul di TVRI berpuluh tahun lampau ketika saya masih sebagai pelajar sekolah menengah.

Adalagi di negeri Kohona sebelah timur, pemabuk berat sampai rela menggantung leher Anjing yang sedang hamil sampai tewas. Melalui Change.org, Komunitas Pencinta Hewan mengirimkan petisi kepada saya untuk ditandatangani mendukung pemberian hukuman kepada manusia yang semena-mena kepada hewan anjing.

Ada pula berita di Aceh, tiga ekor Harimau Sumatera yang jumlah populasinya semakin sedikit mati terjerat karena jerat babi. Tim gabungan BKSDA dan aparat penegak hukum di NAD segera bergerak cepat untuk menginvestigasi dan mengupayakan penegakan hukum terhadap perlindungan satwa langka yang dilindungi undang-undang tersebut dari kepunahan.

Tetapi sekali lagi Manusia tetap menunjukkan superioritasnya terhadap mahluk lain, tapi takluk juga pada kekuatan alam dan kekuatan supranatural lain. Manusia baru sadar jika sudah tidak berdaya seperti awal-awal pandemi lalu bahkan harus teriak healing-healing segala agar tidak terjerat sakit jiwa.

Kemanusiaan lain yang juga perlu selalu kita pertanyakan sebagai hal yang fiksi adalah moderasi tindakan dan perlakuan karena menerima kenyamanan, segala sesuatu keinginannya dituruti atau dipenuhi oleh orang lain pasti akan menimbulkan arogansi bahkan otokrasi, seolah-olah keputusannya yang paling benar dan paling tepat tapi jika dicari pertanggung jawabannya, aku hanya bisa benyem. Ada yang tidak segan-segan menggunakan fasilitas instansi tertentu dan melanggar kesepakatan tertentu karena otoritas kekuasaan yang diterimanya. Kewenangan yang diperolehnya membuat Beliau terkesan seolah-olah bisa melakukan segalanya. Kami sebagai masyarakat atau warga biasa hanya bisa mendoakan agar kondisi ini bisa kami tahan dan hadapi dengan ketabahan yang hakiki tanpa harus berdemonstrasi apalagi unjuk rasa sekalipun itu katanya dibolehkan sebagai bagian ekspresi demokrasi. Oh No, so what lah. Toh juga sekali-kali perlu shock therapy untuk mengubah keadaan.

Edukasi atau pendidikan memegang peranan penting hanya pada saat mempersiapkan generasi muda, generasi belia yang belum siap masuk dalam percaturan dan sengketa dunia persilatan Hokkagenisme yang penuh melankolia dan dinamika skriptura yang selalu jadi wacana oratorika tanpa pertimbangan-pertimbangan lain bersifat win-win solution.

Sekarang saatnya manusia yang sadar segera mempersiapkan diri semakin lebih baik dengan pendidikan, seminar, dan kegiatan-kegiatan penyadaran diri untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya. Tidak hanya menuntut dan meminta peserta didik saja atau mahasiswa saja, tetapi dirinya pun harus ikut bergerak dan tergerak dalam kegiatan perubahan terus-menerus tidak stagnan karena sudah kenyamanan di posisi yang sekarang.

Memang saat ini posisi statuta tertentu ada di titik tertinggi, fungsi optimal dari fungsi stasioner. Menikmati kedudukannya dengan euforia yang bisa berlebihan bahkan lebay. Silakan saja, but someday siap-siap terjengkang jika tidak punya jaring pengaman. Baik jaring pengaman keuangan, jaring pengaman sosial dan jaring pengaman pertemanan yang rela menolong sampai maut mengundang kita kembali menghadap Yang Maha Kuasa.

Photo by Juan Vargas on Pexels.com

Bagi yang merasa berkenan berkomentar, sudilah mendaftarkan diri dahulu sebagai pengguna wordpress.com

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.