HUJAN YANG MERESAHKAN

Dinihari tadi hujan dengan lamat-lamat telah menumpahkan semua kekesalannya ke bumi tempat kita berpijak. Tanda-tanda bahwa cuaca dan udara panas pun tidak disematkan Pertiwi seperti hari-hari sebelumnya, bahkan ada kecenderungan Bimantara sudah menunjukkan tanda-tanda menurunkan hujan swargaloka dengan megananda yang kelabu. Di tepian selatan kota ini juga bagian timur mega-mega yang berarak menunjukkan penumpukan akumulasi air pada warna-warna mendung abu-abu.

Tanpa dinyana dan disangka, para kirara ini bergerak bersama sebagaimana waktu kita masih di pembaringan dan mengerahkan semua simpanan depositonya ke Gaia secara bersamaan. Entah lokal atau regional yang jelas kota kecil yang penuh kenangan ini menerima transferan air mata atau bisa juga distribusi fluida dari kelompok jalada di bomantara kita.

Photo by Kaique Rocha on Pexels.com

Terasa sejuk dan nyaman, tidak ada lagi hawa panas seperti hari-hari sebelumnya sekalipun para avatar penguasa udara dan angin telah mendatangkan hujan yang begitu lebat pada hari sabtu dan hari selasa kemarin.

Yang membuat ketar-ketir adalah rumah-rumah dengan drainase yang sama sekali tidak diperbaiki di kota Dere ini. Sekalipun awannya menguning dan membuatku ingin menghirup bau hujan, tetap yang mengganggu dan mengganjal adalah galian-galian sepanjang parit dan got yang tidak diselesaikan dengan tuntas bahkan sempurna. Apakah alasannya karena kekurangan dana dan anggaran sebab diserap untuk menyelesaikan pandemi covid19? entahlah hanya mereka yang tau penggunaannya. Kiranya para pemimpin bisa menggerakkan dinas-dinas yang terkait dengan saluran-saluran pengeringan dan distribusi air di jalanan sesuai waktu dan masanya dan bersifat segera.

Semoga para pemangku kepentingan yang telah diberikan amanah dan berkah dapat menjalankan bhakti dan satya yang sesungguhnya dengan sebaik-baiknya, ikhlas, bertanggung jawab dan teladan sempurna karena menjalankan kepercayaan masyarakat melalui pajak-pajak dan retribusi yang dibayarkan.

biarlah menjadi kenangan hujan berkat
sekolahan basah-basahan

Bertepatan pula dengan hari ini memperingati hari Bumi pada 22 april setiap tahun, bumi telah mengalami perubahan yang cukup drastis sejak tahun 1998 sampai 2020 akibat perubahan cuaca dan iklim. Hal yang meresahkan dan sebenarnya juga mempengaruhi kehidupan penduduk dunia. Diharapkan dengan mengurangi energi, mengurangi menggunakan transportasi berbahan bakar fosil, mulai rajin makan sayur-sayuran merupakan gerakan untuk kembali mencintai dan merawat Bumi (Gaia, Prathivi) ini.

Selamat Hari Bumi

Bagi yang merasa berkenan berkomentar, sudilah mendaftarkan diri dahulu sebagai pengguna wordpress.com

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.