PENGUKURAN FISIK TUMBUH KEMBANG PESERTA DIDIK

Pengukuran tumbuh kembang secara fisika bagi peserta didik tingkat SMA bisa dijadikan alternatif untuk mengetahui dan mengevaluasi pertumbuhan remaja setingkat SMA, apalagi data-data umum ini diperlukan dalam pengisian data pokok pendidikan atau dapodik. Apa sajakah pengukuran fisik ini yang dapat dilakukan kepada para peserta didik melalui mata pelajaran fisika?

Photo by Guduru Ajay bhargav on Pexels.com

Dalam pelajaran fisika yang diamati selain bobot dan tinggi badan dalam Bab I tentang Besaran dan Satuan adalah bagian pengukuran panjang dan pengukuran massa. Menggunakan timbangan atau neraca pegas serta meteran dapat dilakukan.

skema alat hitung tinggi badan tanpa menggunakan sudut dan tangen
h1 adalah tinggi bayangan dan h2 adalah tinggi sebenarnya berdasarkan perbandingan
panjang lengan L1 dengan lengan L2 (yang sudah ditentukan nilainya)

Pengukuran lain untuk tinggi badan dapat dilakukan dengan alat klinometer menggunakan aturan tangen dan aturan tinggi bayangan (obyek) yang diukur dengan obyek acuan berdasarkan perbandingan panjang lengan pengukur. Persoalan ini ada dalam perbandingan besar sudut dalam dan sudut luar secara trigonometri juga menggunakan rasio panjang sisi suatu persegi panjang.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Pengukuran fisik lain lebih mengutamakan pada kesegaran jasmani peserta didik dan biasanya dilakukan oleh guru PJOK (pendidikan jasmani dan olah raga kesehatan) yakni sprint atau lari cepat dalam jarak tertentu serta daya tahan (endurance) saat berlari mengelilingi lapangan sekolah dengan beberapa putaran dan standar waktu kebugaran. Zaman saya SMP tahun 1988 dinamakan Tes Kesegaran Jasmani, juga ada push up, sit up, pull up, dan lain-lain. Selain pengukuran fisik ini mengevaluasi kebugaran jasmani juga dapat sebagai persiapan siswa-siswa memasuki pendidikan kepolisian, ketentaraan, atau sekolah kedinasan lainnya.

Pengukuran yang tidak kalah secara fisika yakni kebugaran pandangan, peserta didik berusia muda didapati gampang mengalami rabun jauh. Suatu keadaan di mana bayangan yang dibentuk jatuhnya jauh di belakang retina sehingga harus diobati (dibantu) dengan lensa cekung (lensa negatif atau sebutan lain lensa divergen). Cara pengukurannya yakni mengukur dari tempat duduk masing-masing deretan huruf yang dapat dibaca dengan jelas tanpa kacamata. Huruf yang dituliskan tentu saja standar dengan tulisan masing-masing guru. Indikasinya jika siswa ini tidak bisa melihat dengan jelas pada jarak 4 meter berarti ia harus menggunakan lensa cekung dengan kekuatan -0,25 dioptri. Jarak pandang jauh secara normal bernilai tak berhingga, tetapi jika siswa sudah mengalami kekurangjelasan melihat obyek mulai pada jarak 4 meter itu berarti sudah ada kemungkinan, walaupun sebenarnya -0,25 dioptri tidak terlalu fatal.

Photo by Guilherme Rossi on Pexels.com

Pengukuran fisik lainnya lebih pada kekuatan otot dan lainnya yang berhubungan dengan pengukuran arus listrik lemah yang ditempelkan pada lengan dan otot kaki yang diukur dengan resistansi (hambatan) atau kuat arus yang dapat sekali-sekali melesat. Pengukuran arus mendadak ini lebih baik menggunakan sensor listrik atau grafik kejut yang dipantau menggunakan monitor komputer agar lebih akurat. Hal ini baru sebatas teorema karena belum pernah dipraktikan pada pengukuran fisik.

Photo by Anna Tarazevich on Pexels.com

Siap-siap melakukan pengukuran penglihatan jarak jauh untuk para pelajar di kelas saya. Kesempatan Tatap Muka ini kita pergunakan dengan sebaik-baiknya.

Bagi yang merasa berkenan berkomentar, sudilah mendaftarkan diri dahulu sebagai pengguna wordpress.com

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.