BUDAK KORPORASI

Organisasi ini tujuannya menciptakan anggota atau pengikut yang patuh, taat, dan setia. Dengan berbagai bungkus peraturan, regulasi, tata tertib, dan bermacam-macam kesantunan sebagai pengikat kepada seluruh anggotanya. Kadang kala kesetiaan yang membabibuta menyebabkan pimpinan organisasi akan berada pada status arogansi dan statuta otoriter dengan alasan kekuasaan.

Kekuasaan yang katanya didapat secara demokratis dan pemilihan langsung tampak “wajar” tetapi jika didasari nurani kepemimpinan yang egaliter dan humanis, sebagaimana yang dicontohkan dalam buku-buku sejarah dan teori-teori serta praktik-praktik kepemimpinan yang “baik” dan mendasarkan pada penghormatan anggota organisasi sebagai organ-organ hidup yang selalu berkembang dan dapat berubah dinamis sesuai zaman dan waktu.

Photo by Yan Krukov on Pexels.com

Organisasi yang tidak peka, tidak sensitif dan menjadi sulit bergerak atau berubah lambat laun akan menurun kualitasnya dan akhirnya sama seperti kembang yang layu dan tidak bisa tumbuh lagi.

Tetapi organisasi yang tujuannya menggapai profitabilitas, apalagi profitabilitas ini melibatkan dana masyarakat atau dana investor sebagai penyandang dana atau penyerta modal, tentu saja aturan-aturannya menjadi lebih restrict atau lebih ketat dengan tujuan mencapai keuntungan sebesar-besarnya. Loyalitas anggota, loyalitas pelanggan menjadi harga mati untuk mencapai target keuntungan sebagaimana rapat bersama pimpinan organisasi atau pimpinan korporasi.

Yang paling menyenangkan memandang “budak-budak” korporasi sekalipun mereka mendapatkan gaji yang besar dan nilainya fantastis adalah mereka akan bekerja keras untuk mencapai target profit atau target keuntungan bahkan memaksimalkan keuntungan disamping meminimalisir pengeluaran, jika perlu pengeluaran ditekan sebesar-besarnya agar mendapat keuntungan. Modal dan sebagainya tentu saja sudah diperhitungkan dalam pengaturan margin operasional korporasi atau perusahaan. Menentukan kebijakan-kebijakan strategis korporasi merupakan pekerjaan yang “dibayar” mahal oleh korporasi kepada orang-orang yang ahli dan cakap dalam mengatur dan mengeksekusi kebijakan-kebijakan tersebut, termasuk pengawasan, pelaksanaan secara tepat dan efektif, juga pencatatan dan penyimpanan laporan dan hasil operasi korporasi (perusahaan).

Photo by fauxels on Pexels.com

Korporasi ini enaknya disebut koperasi saja. Koperasi lambangnya seperti tangan yang bertopang satu sama lain, sama halnya dengan kerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Apa tujuannya, selain mengembangkan diri, mengembangkan kerja sama, dan menjadikan kerjasama tersebut sebagai keuntungan. Jika ada kerugian, maka bagian pengembangan kerja sama tadi memperhitungkan dan menganalisisnya, serta merencanakan mengurangi bahkan menekan kerugian, mengurangi pengeluaran. Pekerjaan rutin seperti inilah yang akhirnya dapat membelengu para pelaku-pelaku atau anggota-anggota koperasi yang diberikan tugas kepercayaan mengelola korporasi atau ambil bagian sebagai pengurus koperasinya.

Normatifnya, koperasi dimulai dengan kerjasama saling percaya dan saling mendukung sesama anggotanya, mulai dari yang kecil mengerjakan suatu proyek atau suatu tugas, bisa juga mengerjakan target non-profit sebagai landasan pertama, kemudian jika sudah berhasil dapat melanjutkan ke target yang lebih lanjut atau menuju target-target profit dan disesuaikan dengan situasi kondisi, termasuk hasil riset pasar, riset konsumen, riset pembeli, riset lingkungan dan riset kebutuhan. Riset juga tidak sulit, melalui pengamatan-pengamatan, catatan-catatan dari jurnal atau siaran pers, berita-berita ekonomi lokal, regional hingga internasional. Isu-isu strategis yang jangan dilewatkan sedikit pun kemudian dipilah menjadi hal-hal khusus yang sinergis dengan koperasi yang sedang dikerjakan.

Memfokuskan masalah yang cocok dan sesuai dengan korporasi yang sedang dilaksanakan merupakan hal yang sederhana dan ini dapat mengikat semua pihak. Lebih kuat lagi pihak-pihak tersebut dengan sukarela mengikatkan dirinya dalam aturan-aturan lain dalam perjanjian hukum dihadapan notaris, sudah berbadan hukum dan kemungkinan penyelesaian sengketa bisa melalui arbitrase yang legal dan sejalan dengan aturan hukum juga.

Membuat kerjasama yang akhirnya membuat kita menjadi “budakl” didalamnya, harus diikat dalam aturan hukum.

Bagi yang merasa berkenan berkomentar, sudilah mendaftarkan diri dahulu sebagai pengguna wordpress.com

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.