Satu Guru Satu Blog

Sepertinya baru mulai bangun untuk menulis blog, katanya dari menulis blog bisa dijadikan buku. Mungkin demikian idenya bahwa berlatih menulis blog bisa membuka mental block penulisan.

Menulis sejak zaman dulu memerlukan media, para empu antara lain yang terkenal di negeri ini sampai mancanegara seperti Ki Sutasoma dan Ki Prapanca menuliskannya di daun lontar. Diterbitkan dan disimpan di penerbitan kerajaan, baik Majapahit dan kerajaan turunan dari kerajaan besar ini.

Saya meyakini banyak sekali empu-empu yang berkepandaian tinggi dan bisa menulis ide ide pemikirannya di media seperti itu. Sampai pada masa awal kemerdekaan Republik Indonesia banyak pujangga pujangga menulis buku buku dan kumpulan puisi. Dilanjutkan di era perpindahan hegemoni perpolitikan dari Orde Lama ke Orde Baru.

Bermunculan penulis penulis ternama dan mencuat salah satunya, penulis kelahiran Blora yakni Pramoedya Ananta. Trilogi yang Beliau tuliskan berkesan juga sampai mancanegara dan karena pemikirannya Beliau sampai diasingkan ke Pulau Buru, tetapi karyanya tetap abadi dan dikenang sampai sekarang di Museum nya di Blora.

Tahun 2000an bermunculan fenomena penulis novel beken lainnya seperti Andrea Hirata, Akhmad Fuadi sampai Tere Liye yang buku bukunya saya koleksi. Tulisan ringan dan tidak garing diterbitkan ratusan ribu eksemplar tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tanpa ada kritik sosial, kritik tentang pemerintahan dan hal lain. Palingan seperti otokritik atau biografi pendidik pendidik hebat seperti Bu Guru Aini, dan satu karya A. Fuadi yang mengesankan seorang dosen yang tetap sederhana sampai akhir hayatnya.

Kesan saya menulis blog ini masih tidak dianggap serius dan tidak menjadi nilai kredit untuk naik pangkat atau kredit perubahan status tunjangan penghasilan kependidikan sebab tidak pernah dimasukkan dalam unsur penilaian kinerja kepegawaian. Seringkali menulis blog ini terjebak atau menjebak si penulis seperti curhat atau curcol saja, tidak ada keseriusan membahasakan pengalaman dan hal lain yang bisa membangun dan menginspirasi kebangunan atau gerakan perubahan.

Blog pribadi kalah dengan media penulisan arus utama seperti di blog detik atau Kompasiana. Tapi biarlah itu jadi lahan rejeki orang lain..

Kepedulian dan harapan saya, guru Fisika bisa menulis blog dan menuliskan impian, rencananya, kegiatan hariannya yang dapat menjadi jurnal perjalanannya. Sebab di ujung setiap keramaian pasti adankesepian. Di setiap akhir perjalanan kehidupan kita adalah kematian.

Warisan yang bisa saya tinggalkan sekalipun tidak diterbitkan adalah kenangan dari tulisan tulisan ini, ada yang kelam dan cerah, semuanya terhambur menjadi satu sesuai mood dan nuansa yang diangkat. Jangan kaget dengan fenomena blog blog baru karena namanya juga tumbuh sesuai musim apalagi musim untuk penilaian angka kenaikan pangkat bagi pegawai berjenjang fungsional. Asal itu diterbitkan jadi buku, apakah buku elektronik bisa? Bisa asal diakui oleh pimpinan instansinya, termasuk penelitian yang masuk ke dalam jurnal penelitian terakreditasi..maka untuk lancar menulis berlatihlah dengan menulis blog bahkan setiap hari. Saya ingat jargon teman saya Om Jay namanya yakni Wijaya Kusuma penggiat TIK dari SMP Labschool di Jakarta, Menuliskan Setiap Hari dan Perhatikan Apa yang terjadi.