MANUSIA PENYENDIRI

Jika zaman dulu sebelum kebangkitan telepon seluler semua orang menyendiri dengan membaca buku atau membaca koran, sehingga penerbitan buku dan koran semarak di mana-mana. Naik Bis, kendaraan angkutan umum, ruang tunggu rumah sakit, ruang tunggu pelayanan publik, ruang mana saja, stasiun kereta api, stasiun bis, stasiun pesawat terbang atau bandar udara sampai pelabuhan kapal antar pulau antar provinsi dan pelabuhan sungai. Semua manusia-manusia penyendiri menyibukkan dirinya sendiri dengan membaca buku atau membaca koran yang entah dibawanya, nemu di bawah kursi panjang atau membeli dengan penjaja koran dan majalah yang bertebaran sepanjang ruang tunggu tersebut.

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Sejak kebangkitan telepon seluler pada tahun 98an akhir sampai sekarang di tahun 2009-2010 semarak smartphone, menggantikan BB (basenter balampu) yang bisanya hanya terima SMS dan lain-lain atau menelpon sampai kuping panas dan pedas. Ingat iklannya yang membuat tertawa ngakak karena kuping sampai merah tapi kuota bicara ngga habis-habis sampai kini menjadi kuota bermain game sepuas-puasnya sampai lupa tujuan hidup dan lupa tugas bahkan sampai lupa keluarga, anak, istri, suami, orang tua, kakek, nenek, buyut hingga teman-teman karena asyik sendirian.

Photo by Sascha Hormel on Pexels.com

Itulah kondisi zaman sekarang, semuanya serba menyendiri. Orang tua membawa anak-anak ke restoran, bukannya ramai berbincang-bincang atau ngobrol di meja makan, tapi asyik dengan handphone, ponsel, gawai, gadget-nya masing-masing. Ayah sambil nenteng rokok elektrik bukan lagi cangklong asyik menggeser-geser di hape layar sentuhnya yang mirip dengan kaca warung tegal, Mamah asyik pantengin WA grup arisan atau sight seeing shopping online di gawainya yang bertatah permata intan berlian bling-bling, anak-anak sibuk dengan headset TWS yang nirkabel berbluetooth mendengar musik, berdendang kecil, bahkan berkaraoke atau asyik ber-PUBG FF Mobile Legend sendirian sampai kadang terpekik sendirian karena dibantai lawan atau berhasil melakukan slain kepada pihak musuh. Kakak yang cewek-cewek sibuk mencari taman, tempat kembang, keramaian di cafe hingga toilet untuk membuat video joget-joget ala tiktok dengan eksistensi sehebat mungkin menciptakan gerakan-gerakan dance yang memukau ala-ala BTS, Pink, Twice, dan lain-lain grup kenamaan budaya dari negara-negara yang selalu update dengan perkembangan permusikan dan gerakan-gerakan memukau yang sportif dan ringan langkahnya dengan gemulai ditambah glowing sana sini memantulkan aura ikonik artis mancanegara papan atas kelas pertamax bukan lain kelas premium.

Photo by Darya Sannikova on Pexels.com

Begitulah gaya milenialitas yang semakin biasa kita pandang di sana sini, bahkan ke ruang elegan restoran kelas mewah tidak luput dari berbagai penampakan tersebut. Jangankan warung tegal pinggir jalan atau warung Minang dengan beraneka pilihan kuah hingga gorengan, sambil menunggu masakan racikan ramesan tiba, sering terpantau ramai lancar dan padat merayap, manusia-manusia penyendiri penyuka gawai di mana-mana. Antrian Bank tidak lagi riuh rendah dengan saling bercakap-cakap karena sekarang terkena protokol menjaga jarak sama seperti gaya elektrostatik antar partikel listrik menurut Coulomb, tengah terjadi di antara kita.

Fenomena menarik yang sampai kapankah akan bertahan, tentunya semakin modern kehidupan manusia. Kita tidak lepas dari revolusi industri 4.0, industri telekomunikasi, industri pintar, industri masa depan. Peluang kemajuan dan komunikasi terkinikan dengan kecepatan tinggi di jalur lalu lintas jejaring telekomunikasi ada di genggaman tangan, bukan lagi di atas meja dalam bentuk desktop atau laptop hingga palm top Treo melainkan diwakili oleh merek-merek terkenal Apple, Samsung, hingga Oppo Reno, Vivo, Advan, XiaoMi, Mi Gadget dan bahkan nantinya mungkin berada di pergelangan tangan hingga jadi perhiasan digital di cincin atau jari manis hingga jempol dan kelingkin. Bahkan bisa jadi nanti ada chip yang ditanam di kening atau telinga dan cara memakainya tinggal mencet bagian kening atau telinga tadi untuk beroperasi. Layar holografik tersedia di kacamata optikal yang bukan lagi kaca biasa atau kaca dari kulit kodok melainkan kaca sintetis yang terbuat dari partikel bening tembus cahaya dan berkualitas setara dengan HUD pilot pesawat tempur termahal di dunia saat ini.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Kapan itu semua terjadi, tunggu saja tanggal mainnya dan apakah kita semua sebagai konsumennya atau kita sebagai investornya. Yang menikmati aset-aset kita bekerja daripada ketiduran di tanah lapang atau di pinggir jalan sebagai tanah buangan dan tanah sengketa.

Photo by Aline Viana Prado on Pexels.com