Demi Finger Print

Sejak tanggal 3 Januari 2022 kembali sistem presensi menggunakan alat rekam elektronika sidik jari. Kesan di hari pertama penggunaan kembali adalah banyak teman teman yang gagal dikenali mesin bahkan sampai 15 kali. Entah yang mana gagal pengenalan itu.

Apakah karena saat perekaman terlalu meremehkan atau tidak tercatat scan dengan baik, bahkan sampai ada pembelaan terhadap kegagalan mesin dengan berbagai alasan. Prinsipnya bagi saya adalah jika memang itu error’ dari machine maka machine diganti tapi jika error’ saat scanner sidik jari berarti harus diulang lagi atau yang gagal itu mencatatkan dirinya dalam kehadiran secara manual.

Saya jadi ingat sentilan teman saat diskusi mengenai kegagalan pengenalan sidik jari itu, karena terlalu memaksakan kehendak sendiri yang ternyata targetnya terlalu tinggi atau menggunakan teknologi malah mempersulit diri sendiri. Ide presensi elektronik dengan waktu yang dibatasi adalah MENINGKATKAN KUALITAS KEDISIPLINAN TENAGA KERJA DI SMAN 2 PALANGKA RAYA. jangan lupa juga kualitas kedisiplinan tersebut juga dibarengi dengan keteladanan bukan hanya instruksi. Karena kita bukan mau berperang dan dalam keadaan darurat.

Keberhasilan mendidik dan membimbing termasuk memimpin bawahan yang notabene adalah orang dewasa dan bukan anak kecil lagi adalah keteladanan, contoh kehadiran, contoh contoh baik, best Practice dan contoh keberhasilan hasil studi banding ditunjukkan dipraktikkan bukan hanya diceritakan tapi DILAKUKAN.

Paling gampang itu menyuruh atau Memerintah, tapi saat menunjukkan suatu pekerjaan sesuai kerja tangan dan kakinya lebih sulit dikerjakan. Apa contohnya Bangun pagi, datang ke sekolah tepat waktu, masuk kelas dan keluar kelas tepat waktu, makan tepat waktu, istirahat tepat waktu, memberi laporan kerja tepat waktu, semuanya tepat waktu.. tapi jika sistem hirarkis saja masih ada yang bolong bolong yah sudah tentu tidak akan bisa tercapai hal hal mulia yang selalu menjadi alasan dengan sebutan Resolusi.

Penindakan bagi pegawai yang tidak hadir atau tidak finger print apalagi dengan alasan masih ada pembelajaran daring semestinya masih bisa dipertimbangkan, apalagi dengan durasi pendek 2 jam dari jam 6 sampai jam 8 dan rumah pegawai yang tersesat terdistribusi jarak yang tidak merata, menjadi kesulitan dan kendala tersendiri.

Jika bagi saya, ini kembali pada komitmen dan integritas. Jika kita berintegritas baik dan memang ditugaskan di sekolah teritorial ini, maka kita juga harus bersyukur dan berupaya sekeras mungkin mendisiplinkan diri mengikuti peraturan pegawai yang berlaku resmi, berusaha mengisi presensi finger Print tepat waktu, usahakan bangun pagi pagi dan jam 7 juga mulai daringnya, itu tidak masalah besar sebab kita ditempatkan di kota apalagi ibukota Provinsi Kalimantan Tengah. Nah bagaimana dengan alasan malas dan daring itu kita terapkan juga jika berada di daerah daerah yang sulit dijangkau, apalagi repotnya kan.

Jadi saya menghimbau rekan rekan saya yang daerah tempatnya bekerja tidak mengalami kendala, kita tunjukkan integritas dan komitmen kita menyusuri 2022 ini lebih baik lagi, lebih hebat lagi, lebih bekerja keras lagi. Yang mana kerja keras kita salah satunya datang pagi sesuai jam durasi finger Print sebagai poin pertama etor kerja berdisiplin tahun 2022.

Bagi yang merasa berkenan berkomentar, sudilah mendaftarkan diri dahulu sebagai pengguna wordpress.com

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.