Menyapa Malam

Besok tanggal 10 Agustus 2021 bertepatan pada senja kala mencentang hari, memasuki tahun baru Islam 1443 Hijriah. Peredaran bulan 🌙 dalam waktu 254 hari setahun memulai lagi titik tawaf-nya mengitari Bumi sebagai pusat Orbital dan menjadikan gerakan rotasi ini sebagai acuan kalender umat Muslim. Ada 254 hari lagi menurut hitungan kalender umum yang dikenal dengan sebutan kalender Gregorian. Pe

Bedanya jika perhitungan nol waktu kalender Hijriyah saat Bulan terlihat muncul di ufuk minimal 2 derajat dari horizon sementara Kalender Gregorian memulai waktu ke Nol pas tengah malam atau midnight. Entah di mana lokasi penentuan kalender Gregorian itu, masih saya riset sampai sekarang.

Kenyataannya, memasuki suasana senja dan gelap. Adalah suasana mistis dengan kesunyian dan kadang ada ketakutan yang bisa mencekam, terutama di wilayah yang tidak ada cahaya.

Semisal senja dulu, tahun 2011 saat kami pulang dari Banjarmasin begitu selesai kuliah tiba-tiba di antara desa Henda dan desa Jabiren, lampu utama mobil Avanza kami tiba tiba padam dan saya tidak membawa cadangan. Beruntungnya kami membawa senter dan fog lamp mobil bisa bekerja saat itu. Ada suasana yang sedikit spooky karena di jalanan itu hanya ada kami berdua satu mobil, kebiasaan orang di desa saat senja itu banyak berdiam diri di dalam rumah 🏡. Apalagi ada mitos bahwa saat itulah hantuen dan kambe menunjukkan batang hidungnya. Pertanyaan saya apakah Hantuen dan kambe ini bernafas dengan oksigen? Sementara mereka adalah roh yang melayang-layang

Ingatan cerita saat kanak-kanak inilah yang terus terbayang sampai sekarang setiap kali kami melewati tempat itu dan saat senja kala. Kira kira senja itu antara 17.30 sampai 18.00 lah. Saat itu pula, bulan sabit sebagai acuan terang kadang muncul di setengah bulanan menandakan bahwa awal bulan hidup.

Kebiasaan orang Dayak, untuk memulai suatu penghidupan yang baru setelah seharian bekerja di ladang dan mengaso di pehumaan karena masih melanjutkan kerja berladang, memandang bulan sabit awal sebagai pertanda apakah panen akan berhasil atau kegagalan dalam bercocok tanam. Biasanya pertengahan Juli, para tua tua turun ke ladang untuk berkebun atau manugal, menanam padi ladang untuk menghasilkan gabah yang dijadikan beras. Selain mengharapkan dari tanaman palawija dan buah buahan di hutan sekitar kebunnya dan ladangnya itu.

Kebiasaan ini masih dipelihara di beberapa wilayah, bahkan mungkin seluruh Indonesia. Tipikal farmer, pejuang dari lahan ladang lebih mendominasi dibanding pekerja pekerja sektor riil. Petani atau peladang adalah hakikat keprofesian manusia Indonesia.

Karena faktor perkembangan zaman, kemajuan teknologi dan tuntutan masa depan dengan pelbagai modernisasi dan masalah kemanusiaan yang semakin rumit dan kompleks, serumit bilangan imajiner. Manusia manusia di Indonesia mulai bergelut dengan kependidikan dan keahlian lainnya yang pada zamannya pernah menjadi tujuan utama kalangan generasi 90-2000an.

Generasi post 2018 malah menjadj generasi milenialista yang mengandalkan eksperimen sosial dan cara mengekspresikan diri yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Dari generasi baby boomers, generasi 2yk, generasi digital immigrant hingga menjadi native digital yang pernah saya jadikan presentasi tahun 2013. Yang baru disadari saat ini setelah zaman pandemi merajalela, ke mana mana setiap berkerumun pasti akan merebak penjangkitan Covid 19, terpapar dan harus isolasi baik secara mandiri atau di rumah sakit atau di tempat isolasi yang sudah ditentukan dan disediakan pemerintah.

Kemelut senja sekian kalinya menemui kita, akankah kita berakhir esok atau masih ada harapan di lusa. Senarai dengan harapan bahwa bulan depan masih sanggup bertahan untuk membayar kewajiban, biaya biaya kehidupan yang hidup yang terlalu bergaya atau dituntut untuk tetap bergaya. Punya rumah, punya kendaraan, punya harta yang bisa dipamerkan selain biaya pendidikan dan kesejahteraan termasuk biaya sosialisasi dan sebagai sosialita.

Kuota hape dan telekomunikasi tidak boleh berkurang, karena hal itu sangat berdampak pada kecaman bisa juga tidak dipertahankan dalam suatu komunitas milenial yang semuanya tersimpulkan dalam grup WhatsApp atau grup Facebook, atau grup daring lainnya. Jika dulu tahun 2003 2004 kita bangga dengan hape dan SMS blast ke dalam grup kenalan, tahun 2018 dstnya kita bangga bisa membantu informasi dan membagikannya secara masif ke berbagai grup yang kita ikuti tanpa pandang bulu, terutama bulunya siapa pun. Tidak punya grup berarti kurang terkenal, kebanyakan grup maka hape jadul yang daya simpannya kurang dari 64 GB akan tinggal good bye.

Senja malam telah tiba, memikir suasana meredup sebagai keniscayaan dan kesejatian kita. Akhir zaman bagi kita pada masanya mungkin sudah tiba, jika kita tidak bersiap untuk beradaptasi dan beranjak dari kebiasaan dan keterampilan lama menuju kebiasaan dan kompetensi baru, yang dinamis dan tidak lekang oleh waktu. Waktu kekinian menjadi tolok ukur nisbi, kekinian menentukan apakah anda bisa bertahan hidup atau hanya menjadi pemirsa yang tak berdaya selain mematikan remote control dan tidak menyaksikan televisi.

Jika zaman kanak-kanak saya jam 17.30 adalah menonton film kartun dan sekomplekan tidak ada yang keluar bermain di jalan sebab ada tontonan asyik di dalam rumah, kini justru televisi bukan media hiburan di rumah terkecuali sudah tersambung Indihome, Awani astro atau sambungan televisi siaran kabel atau Netflix, mola TV, iflix, YouTube dan lainnya. Menonton sudah bisa di genggaman tangan atau dari komputer bahkan laptop. Jargon anak kecil saja tau, memang sepenuh penuhnya menggambarkan bahwa anda dan saya sudah tua di dunia digital ini.

Ruang gerak kita sudah sangat terbatas, keleluasaan yang membedakan kita dengan anak anak muda yang Indy adalah kecukupan biaya yang kita keluarkan untuk memperbaharui gadget gawai atau membayar kuota langganan bukan bergantung pada kuota kembikbud yang hanya untuk ruang guru dan google classroom saja.

Menyapa malam saatnya dia tiba dan mungkin akan menelan kita dalam leba, kita terlelap dan tertidur melewati masa masa misterius mistikal dan mencekam. Setiap hari sampai usia di hayati terhenti karena degup jantung dan nafas kita kembali ke Nol lagi.

Nikmati hari kita yang ada dengan karya dan sukacita, biarkan Tuhan yang mengaturnya dan kita melakukan yang terbaik dengan waktu yang diberikanNYA

Bagi yang merasa berkenan berkomentar, sudilah mendaftarkan diri dahulu sebagai pengguna wordpress.com

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.