PAGI TAK LAGI MENARIK

Sejak 2 Februari 2020 kita sudah diingatkan bahwa wabah Sars CoVid-19 merebak dan kemudian sampai hari ini, 28 Juli 2021 telah lebih 1,5 warsa kita lalui dan banyak sekali perubahan yang terjadi. Salah satunya kondisi di pagi hari.

Pagi ini kubangun dengan semangat tinggi
Menyambut hari dengan berseri
Mempersiapkan diri menyongsong kelas baru
XI MIPA 6 dan XI MIPA 7 yang seru
Tekadku bergelora dan merencanakan sesuatu
Membuang sampah rumah tangga lalu menulis di blog aku
Sampah-sampah yang dikumpulkan selama dua hari
Kuangkut dengan mobil serbaguna
Kususuri Jalan Kota Palangka Raya yang lengang dan seperti baru buka
Biasanya, jam segini sudah ramai anak-anak dan siswa lalu lalang
Berseragam putih putih, putih hitam, berseragam batik berangkat sekolah dengan riang

Tapi pagi ini semuanya tidak menarik
Semua penduduk yang kuliat berjalan malas
Gerobak gerobak masih berserakan seperti tidak diusik
Sampah-sampah bertebaran dan hanya petugas kebersihan menjalani aktivitas
Masyarakat yang awal pandemi beramai-ramai berolah raga juga tak tampak asik
Semua berdiam diri di awal hari di kediaman masing-masing tidak melintas

Jalan lengang masih kutelusuri
Dengan kendaraan suzuki yang susah lari
Kuinjak pedal gas ia malah enggan bergegas
Ku tepikan kendaraan agar Suzuki kembali bertugas
Suara mesin kupaksa bekerja seolah harus bangun dari rasa malas
Sama hal dengan aku yang juga agak lelas karena selalu tidur larut tak berkantuk

Kutelusuri jalanan kota ini
Kubilang kota mati, pun masih ada orang sana sini
Sambil mengendarai suzuki tak pula banyak kutemui
orang orang yang biasa berlari-lari dan terburu-buru menuju kantor
Sampai jam enam kurang, tak banyak yang kupandang
Hanya hamparan embun dan uap air tipis mengambang
Karena jalanan sepi, masih banyak pemotor yang menentang arus penyeberangan
Petugas Dinas Perhubungan kan biasanya datang siang
Sekitar jam delapanan mereka sudah duduk tenang
di warung kopi dan warung nasi kuning di depan Ombudsman
Slogan dan pajangan Awas Covid19 hanya berlaku bagi orang
Bukan berlaku dan awas bagi dirinya selaku petugas

Sesampaiku di bank sampah
Sudah ada dua orang pengais rejeki menyambut barang yang kubawa dengan malas dan enggan
Sudah hidup seperti ini berbagi senyuman saja sudah susah
Karena wajah ditutup topeng murah dan masker asal tampang
Yang penting sudah tenang karena hidung dan mulut tidak tampak lengah
Aku juga malas memberi senyuman dengan orang yang segalanya bersusah-susah
Lagipula di wajah masih tertutup penghalang senyuman
Kubalikkan kendaraan menuju jalan sepi yang lain
Berbatu batu dan berkelok-kelok tidak teratur
Sepertinya jalanan itu bertahun-tahun tidak disentuh
Kalo pun ada mungkin tidak seberapa duitnya yang bisa digaduh
Bisa jadi karena jalan itu tidak bernilai ekonomis dan tidak mewakili aspirasi konstitusi
Tahulah tempelah

Jam 6 lewat sedikit tugasku usai
Sampai pada tahap aku bisa mengisi blog ini
dengan bentuk yang dimirip-miripkan dengan puisi
WKWKWKWKWK mungkin tidak biasa kubuat begini

Kini Pagi tidak lagi menarik
Semua penghuni bumi tak lagi melirik
Jika pagi itu indah berseri dan asik
Hanya beberapa yang menyadari bahwa pemandangan pagi masih ciamik

Photo by Elias Tigiser on Pexels.com


Bagi yang merasa berkenan berkomentar, sudilah mendaftarkan diri dahulu sebagai pengguna wordpress.com

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.