BAHASA CORONA


Terhitung sejak pengumuman pasien pertama terkonfirmasi covid-19 pada awal Februari 2020, sampai dengan hari ini :

BNPB Indonesia (@BNPB_Indonesia) | Twitter
BNPB Indonesia (@BNPB_Indonesia) | Twitterhttps://twitter.com/bnpb_indonesia




Saya sungguh hairan dengan manusia-manusia yang masih ngga percaya bahwa musuh yang tidak kelihatan ini eksis dan mematikan.
Penjual makanan, penjual buah-buahan yang notabene adalah kaum pendatang dengan santuy-nya hanya bermasker bengkoang doang sambil menawarkan dan menjajakan dagangannya. Ada yang bahkan dengan provokatif dan inisatif mendatangi pembeli sambil menunjukkan kesegaran buah-buahan yang dijualnya. Apakah yang ia pegang itu bener-bener aman, yang saya beli goreng pisang saja abis megang-megang kena hardik dan dilarang-larang untung saya bayar tapi kalo mengingat perlakuan pedagang yang maskernya cuma didagu doang itu, orangnya gendut dagangan di gelar di samping Pura Pitamaha Jl. Kinibalu sampai hari ini eneg saya melihat bahkan membelinya.
Siapa yang bangga dilarang penjual gorengan pisang?

Photo by Adnan Mughal Photographer on Pexels.com


Yaw yaw yaw, jijay dah melihat kelakuan warga warga santuy yang ada di sekeliling kita. Engga perlulah melihat kawasan lain cukup di sekitar tempat tinggal Palangka Raya ini saja sudah sanggup memijat-mijat sekwilda (sekitar wilayah dada).
Daripada saya kena hal yang merugikan dan positif pada pernafasan tidak bisa melakukan penciuman dan rasa di lidah pun tidak lagi bekerja, mending saya antisipasi dengan asap-asap ramu-ramuan rempah-rempahan warisan leluhur yakni betimung.
Uap uap campuran lengkoas, kunyit, jahe, kencur kering, sereh, cengkeh, pala, kayu manis. Lama-lama sebenarnya bisa jadi kuah Soto Lamongan deh.

MAAF BUKAN GAMBAR SEBENARNYA