Bagus Yang Tanggung

Ingatanku kembali pada masa lalu, tatkala aku masih sebagai guru tidak tetap di sebuah sekolah menengah atas ternama di kota kecil, Palangka Raya. Pasihan, sebuah motto yang tertera menantang di halaman gerbang sekolah. Sampai sekian dasawarsa berlalu dan aku akhirnya menjadi guru, bagiku Motto itu masih misterius.

Di tempat ini, di masaku penuh gejolak dan keinginan untuk memberikan pendidikan yang terbaik sebagaimana mata pelajaran yang kutekuni di bangku pendidikan Guru yakni Pendidikan Fisika, aku mengajar begitu ketat dan disiplin. Sebagaimana tuntutan dan tipikal dari sebuah bidang studi ilmu pasti. Karena demikian ketatnya aku mengajar, bahkan sampai beberapa tahun setelah aku menempati pos pengajaranku yang baru dan menetap. Aku malah dikenal sebagai guru killer.

Sampai sekarang aku tak percaya dengan sebutan dan akibat itu, sebab se-killer-killer-nya seorang guru Ilmu Alam, tidak pula memberikan dampak batiniah yang menampakkan traumatikal kepada para peserta didik yang telah melewati pembelajaranku. Tidak sedikit yang akhirnya mengetahui dan membenarkan pada waktunya mereka menyelesaikan pendidikan tinggi di berbagai tempat di Indonesia, bahwa memang seperti itu ketat dan tegasnya menjalani bimbingan dan pembelajaran Ilmu Alam. Jadi sampai kini, jika ada yang mengatakan membelajarkan yang menyenangkan, maka asumsi itu mungkin bagiku masih perlu dikaji lebih mendalam.

Mengajarkan Fisika di bangku sekolah menengah atas, susah susah gampang. Apalagi jika menemui kondisi saat itu, di mana semua ruang kelas dijejal lebih dari 36 orang siswa bahkan duduk pun kadang harus berdempetan. Sebab sekolah tempat aku mengabdi saat itu, benar-benar sekolah favorit dan paling banyak dituju para peserta didik. Kadang tidak sedikit yang mesti membawa bangku cadangan agar mendapat tempat dan hak untuk menerima pengajaran di sekolah terkenal dan sekolah idaman para lulusan sekolah menengah pertama di kota kami.

Di awal-awal aku menjadi guru, yang kutemui semua siswanya berbadan besar-besar dan kadang lebih kekar dibandingkan tubuhku yang hanya 157 centimeter dan berperawakan agak kurusan ketika itu. Kadang didorong dengan satu tangan dan bersenggolan bahu pun aku dapat terundur beberapa langkah saking ringannya bobotku. Tentu saja, membentuk diri yang muda agar tampak berwibawa aku harus memerankan tokoh yang disegani dan mempersiapkan mimik selalu serius tanpa jarang tersenyum, kadang pun membawa suasana santai dan nyaman bukan tipikalku untuk menimbulkan situasi komedi dalam kelas dan inilah bagian ter-awkward dari karirku sebagai guru pemula.

Semua siswa yang kuajar memandang sinis dan kadang mencemooh tidak percaya, kalaupun mereka menurut itu semua karena keinginan mendapatkan ganjaran nilai baik atau pun setara dengan naik kelas hingga lulus sekolah agar segera bisa kuliah. Jika memandang dari konten pelajaran mengenai Pengukuran, Vektor, Besaran dan Satuan, Gaya dan Hukum Newton hingga Teori Atom bahkan Energi Inti Nuklir, para pelajar muda ini hanya bisa angguk-angguk dan menuruti contoh-contoh soal yang kuberikan serta mencoba mengerjakannya sesuai dengan tutorial yang kusampaikan.

Aku berusaha menyamankan keberadaan mereka, bahwa dalam belajar Fisika itu selain mencocokkan dan mengikuti aturan atau protokol tetap dengan menyuratkan diketahui, ditanya dan jawab, ternyata aku sering melupakan satu hal. Yakni perkembangan karakter peserta didik. Hingga di tahun ke-2 aku berada di sekolah ini, aku menemui seorang siswa, kusebut saja Bagus (bukan nama sebenarnya).

Bagus berpostur tidak terlalu kurus dan juga tidak terlalu gemuk, ia selalu mengambil duduk di pojokan kelas, seolah ingin lepas dari pengamatan setiap guru yang berada di sana. Kadang ia mengajak teman-temannya bercanda saat pelajaran sedang puncak-puncaknya atau membuat keributan-keributan kecil untuk mendapatkan perhatian. Kuperhatikan ia hanya terdiam saat kuajarkan di kelas itu, walaupun aku hanya sebagai guru pengganti. Di kala istirahat pun, ia hanya duduk termenung di tepi taman sekolah, jika pun turut bercanda bersama teman-temannya ia justru tidak antusias dan menarik diri dari keramaian.

Dalam perayaan ulang tahun sekolah atau ulang tahun merayakan kemerdekaan Republik Indonesia, kadang ia bisa saja antusias luar biasa dalam berolah raga, kadang juga pasif dan pesimis tidak melakukan apa-apa.

Sampai saatnya hari itu tiba, tugasku memberikan pelajaran tambahan sehubungan Bagus dan kawan-kawan berada di kelas tiga dan beberapa bulan mendatang mereka akan menghadapi Ujian Akhir Sekolah. Sesuai tingkatannya, maka persiapan yang diberikan pun memang spartan, mengajar dan belajar di kelas tiga ketika itu sangat sangat serius sebab semua siswa dan guru berharap hasil Ujian Akhir Sekolah yang dinamakan EBTANAS membawa rata-rata nilai yang lebih meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada saat itu, rata-rata nilai EBTANAS yang terbaik membawa prestise bagi nama sekolah, apalagi sekolah favorit dan tertua di kota kami ini.

Tentu saja, aku sebagai seorang guru muda yang masih sangat idealis benar-benar mendambakan mendapat sebutan berhasil membuat rata-rata nilai akhir EBTANAS Fisika memperoleh peringkat terbaik dan saking polos dan arogan itu semua karena kerjaku seorang. Di kemudian hari aku benar-benar menyadari, bahwa keberhasilan pendidikan itu adalah kerja sama tim, bukan one man show pekerjaan solo seorang guru semata.

Tugas-tugas dan tutorial diperketat dan dijadwal padat dari siang hingga sore hari selama empat hari dalam sepekan, tetapi Bagus salah seorang yang sangat menonjol untuk tidak memprioritaskan tekad ini demi prestasi sekolah, dia terlihat lebih apatis bahkan tidak melakukan apa-apa. Tidak serius, tidak memperhatikan, cenderung mengganggu konsentrasi temannya bahkan mengajak teman-teman lainnya untuk tidak perlu berlelah-lelah mempersiapkan diri menghadapi ujian toh lulus juga pada akhirnya dan tetap juga menjadi mahasiswa.

Aku bersabar menahan diri untuk menyelesaikan perkara itu, kudiamkan saja tak kularang dan tak kutegaskan sebab kami sangat dilarang untuk mengusir siswa dari kelas, sekalipun bisa saja itu dilakukan untuk mengelola ketertiban ruang belajar dan mempertahankan konsentrasi peserta didik.

Karena seringnya kubiarkan inilah, Bagus semakin menjadi-jadi. Tindakannya menjadi semakin terang-terangan mencemooh, apalagi dia juga tahu bahwa diriku hanyalah seorang guru honor yang mendapatkan gaji dari uang SPP, bantuan orang tua sebab ketika itu aku belum mencapai status seorang pegawai negeri. Sikapnya semakin berani dan semakin petantang petenteng seolah-olah menyerempet agar ingin terjadi percekcokan dan berakhir pada perkelahian. Sampai akhirnya tugas yang aku minta dikerjakan di lembaran tidak juga dikumpulkannya dan kutagih dirinya untuk mengumpulkan itu, di tengah-tengah kantor guru ia malah menghamburkan kertas teman-temannya sambil berteriak mengajak beradu tinju di tengah lapangan.

Aku berada dalam keadaan dilematis, jika kulawan kehilangan harga diriku sebagai guru, tapi jika kudiamkan aku kehilangan muka sebagai seorang pria. Yang kulakukan hanya menarik nafas dan menghela nafas panjang sambil mendengarkan nasehat guru-guru lain yang berdatanganan untuk menyabarkan aku.

Persoalan itu sampai ke telinga kepala sekolah dan dilakukan mediasi untuk mendamaikan, Bagus tidak hadir saat dipertemukan bersama guru BP dan Kepala Sekolah serta wakil kepala sekolah urusan Kurikulum, aku hanya berhadapan dengan ayahnya yang ternyata juga guru olah raga di tempat itu. Pada proses penyelesaian, aku kembali hanya bisa pasrah bahwa yang salah adalah diriku. Aku terlalu memaksa kehendak dan keadaan, sementara Bagus tidak berkeinginan untuk mengikuti aturan dan pembelajaran yang kuberikan. Entah bagaimana aku mengingatnya kini, apakah saat itu terjadi permintaan maaf dan seterusnya. Aku simpan kenangan ini dalam-dalam dan berjanji dalam hati bahwa untuk mengajarkan anak-anak seperti Bagus ini jangan main-main, jika mau tegas tidak perlu harus keras keras dan marah-marah lagi, beri peringatan ringan jika tetap dilakukan dan tidak mengikuti anjuran guru, yah sudahlah berarti dia sudah cukup menerima pembelajarannya.

Bagiku marwah seorang guru penting, tetapi lebih penting untuk memahami bagaimana membelajarkan seorang peserta didik kepada Fisika yang rumit dan konsekuen tentu saja imbal baliknya adalah waktu jua yang memberi kesempatan untuk mengubah perilaku pelajar ini.

Beberapa tahun yang lampau, aku pernah melihat Bagus yang sudah lulus SMA, tampaknya duduk-duduk saja di deretan toko kelontongan di jalan Seth Adji tempatku mencari mainan untuk anakku yang masih kecil. Saat itu ia terlihat membuang wajahnya dan segera berlalu setelah memandangku ada di situ, aku hanya melihat sekelebatan punggungnya menaiki sepeda motor pretelan tanpa helm yang digebernya kencang memasuki gang kecil menuju perumahan tentara.

Yang dapat kuanalisa dari wajahnya sekilas, memandang sinis atau malu ataupun tidak tahu adab dan apalah itu, Bagus hanyalah seorang yang putus sekolah pada akhirnya dan kisah ini pun tidak berakhir dengan nyata sebab masih berlanjut sampai sekarang. Yang aku tahu hanyalah, ayahnya mantan guru olah raga yang setia membelanya walau katanya “salah” akhirnya tutup usia sebagaimana waktunya tiba. Bagus pun masih tetap pemuda tanggung dan serba benar dengan pandangannya. Aku tidak tahu menjadi apa dia sekarang.

Photo by Adnan Mughal Photographer on Pexels.com

Bagi yang merasa berkenan berkomentar, sudilah mendaftarkan diri dahulu sebagai pengguna wordpress.com

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.