Kandas Serai

Pagi pagi Sabtu seluruh isi rumah tangga ini kerja bakti, ada yang menyapu, mencuci, membersihkan halaman, menyiram Bunga, membersihkan kandang burung burung berkicau, merapikan dapur, merapikan kamar tengah yang berantakan, sudah pasti merapikan alas tidurnya masing-masing.

Begitu sarapan pagi yang tersedia lauk pauk sisa semalam hanya ada Kerupuk itupun tersisa separuh dari yang sebungkus seharga sepuluh ribu dari Warung Jawa Timur langganan si sulung kalo belanja take away gado gado nasi pecel nasi rames sampai nasi campur (untungnya tidak campur pasir batu dan besi seperti warung warung pinggir jalan lainnya)

Sampai ketika istri saya mengunjuk semangkuk lauk pauk yang isinya lemon grass, salty fish, black pepper, red onion, garlic, dan lain lainnya. Sebut saja Kandas Serai yang sudah dalam keadaan basah tapi belum basi.

Perintahnya singkat padat jelas sama seperti komandan Kapal Perang yang sedang mengejar perompak Somalia di teluk Aden atau seperti Kapal Patroli Rusia di Laut Hitam yang kini sedang mencekam, goreng ini sampai kering dan mampus. 😂😂😂😂

Masakan kering dan Mampus, suatu istilah keji pada lauk pauk yang nikmat. Akhirnya saya beri tambahan garam dan MSG secukupnya, secukup yang bisa ditoleransi oleh tubuh dalam hitung 1 miligram, kemudian dalam wajan anti lengket yang panas saya mulai beraksi mengeringkan makanan itu sampai menjadi kecoklatan hampir kematangan (seperti warna seragam kami Senin sampa Selasa, khaki warnanya).

Terasalah aroma aroma yang mengingatkan saya pada masa kecil ditimang dan dimanja almarhum Ayah, Tuhan tolonglah sampaikan sejuta salamku untuknya dan ku trus berjanji tak kan khianati pintanya, Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu. Yah jadi menyanyi lagu yang pernah dipopulerkan oleh Donny Sibarani mantan vokalis Ada Band dan Gita Gutawa saat masih kinyis kinyis.

Yah itulah sarapan hari ini, selamat membaca ceritaku yang tidak seberapa.