Monday yang Lazy

Sejak kemarin malam aku ngga bisa tidur karena istri masih sibuk dengan perhitungan matematika dan kalkulusnya walaupun malam semakin larut. Secara begitu, ia adalah guru Matematika dan komputasi tidak pernah berhenti salam benaknya. Apa apa dihitung, dikurang, ditambah, dikali kecuali dibagi tidak dilakukan sebab itu hanya terjadi 5 kali dalam setahun.

Pembagian THR dan gaji ke-13 termasuk dalam 5 kali pembagian tersebut, sisanya ada SHU koperasi kami di masing-masing unit perkoperasian kredit simpan pinjam di sekolah, kemudian sedikit insentif dari sekolah setiap akhir semester serta tali asih dari pengurus sekolah menjelang pergantian tahun berjalan di perayaan tutup tahun.

Kalkulator, Excel, kalkulator, Excel sedikit data data hasil coretan tulisan berformulasi aljabar dan aritmetika menghiasi setiap lembar kerjanya setiap hari tiada henti.

Saya pikir pekerjaan ini hanyalah buat akuntan atau thinker model, tapi di sekolah justru orang-orang seperti ini yang dicari untuk menggantikan manajer keuangan.

Di tangan seorang perempuan yang handal, uang bisa berbicara banyak dan membuat keluarga bertahan apalagi organisasi sekolah atau perkantoran hingga parpol bisa berkembang maju pesat dan sebaliknya mundur teratur tidak berkesudahan.

Multi tasking lah kalo saya tulis, sebab saya tak pernah sedikit pun terpikir atau berpikir seperti itu, kecuali karena (mungkin) ia adalah perempuan.

Menjadi perempuan adalah kebanggaan sebuah kehidupan, karena itu jadilah perempuan bijak dengan banyak pemikiran dan pandangan, jangan hanya jadi sesat dan tidak bisa mengelola uangnya dengan beli barang mevvah untuk tampak glamour dan berfoya-foya.

Nah supaya tidak disebut riya’, atau sombong ~ maka tiap malam coba selesaikan persoalan matematika fisika atau kimia yang sulit dan rumit apalagi di kala sedang hamil. Agar kita bisa menjadi seperti Mr Plankton, yaitu berkeinginan menguasai dunia.