SCIENCE WITHOUT RELIGION IS BLIND

Dulu mengenang masa-masa SMA kelas II A-1 (sebutan untuk kelas XI jurusan IPA) di sebuah sekolah menengah atas negeri, jika anda membaca profil bapack maka akan tau di mana sekolah tersebut. Suatu ketika kami akan ulangan harian Fisika (mungkin karena karma atau ketulahan, makanya saya menjadi guru fisika). Datang guru kami namanya Pa Hari Sasongko, beliau memberikan ulangan tentang Hukum Newton yaitu Dinamika Gerak Lurus. Betapa marahnya sidin saat melihat tembok-tembok kami berisi rumus-rumus fisika yang Saya tulis dan tidak diturunkan oleh kawan-kawan. Kawan2 SMA saya sepakat biar aja, katanya biar kita bisa mencontek. Sidin biarkan kami mengerjakan soal-soal fisika sebanyak 6 biji beranak abc tersebut sampai selesai.

Photo by Max Fischer on Pexels.com

kemudian bel berbunyi dan kami senyum cerah ceria sudah mengerjakan soal tersebut, padahal satupun tidak ada rumus yang menempel di tembok itu yang pas dengan soal cerita yang kami kerjakan. Teman sebangku saya namanya Imam Hanafi mesem-mesem saja melihat hasil pekerjaan kami yang berjamaah dan dalam satu kelas jumlah siswanya ada 42 orang.

Tanpa banyak bacot basa-basi dan senyum seperti robocop, Pa Hari Sasongko dengan kalem dan suara bergetar pada nada bariton mengatakan, Kalian semua remidial – ngga becus ulangan pake ginian. Kami bertatap pandang heran padahal memang sengaja dan kami memang bandel, akhirnya mau bagaimana lagi. Minta maaf percuma, ya udah diam aja, sama seperti kalean saat menghadapi saya hari jumat keramat 2 itu, persis mirip tidak ada beda-bedanya. Cuma bisa benyem aja, seolah memang menantang.

Saya akui, kami saat itu memang menantang sidin. Sebab sidin orang seberang, dan rasa Sara persaudaraan kami yang barbar dari suku Mongolia itu terpancing terpantik untuk menentang dengan cara yang berbeda dibanding nenek moyang kami Jenghis Khan. Ya sudah, akhirnya hari Selasa remedial pun tiba, semua kertas karton yang saya buat dibuang habis dirobek-robek oleh siapa saya pun lupa, termasuk gambar F-18 saya dengan berbagai kerangka dilumat oleh siapa yah saya juga tak tau. Saya saat itu dipilih oleh Wali kelas Mr Suparto sebagai ketua kelas, ketua kelas yang bandel tentu saja, tapi penakut.

Oke remedial pun terjadi dan soal-soalnya semua uraian esai yang satupun kami tak paham, satu sama lain Etha Indah dan Lilia yang duduk paling depan yang hobinya merayu Pa Hari pun tak mempan untuk menurunkan tensi suhu badan dan murka Pa Hari Sasongko yang memandang kami dengan jelalatan dan seringai serigala yang puas akan memakan hidup-hidup anak SMA kelas 2 yang culun dan imut-imut. Saya tak berdaya dan kosong melompong, apa yang saya tuliskan itu hampa terasa walau lagu Ari Lasso tadi baru hadir di telinga tahun 1994. Tapi sudah saya rasakan pada tahun 1989. Keringat dingin mengucur di sekujur tangan, lap tisu, lap basah, sampai kain pel tidak sanggup menyeka keringat yang deras karena kami semua tak tahu tak tahu apa jawabnya semua. Sampai selesai, melihat kami merana tak bisa apa-apa, rasanya saat itu kami hanya bisa diam dan membatin bahwa Hari Sasongko Killer kejam dan tidak berperikemanusiaan kepada kami-kami yang centil dan manis ini.

Photo by JESHOOTS.com on Pexels.com

Tapi kami bersyukur atas kejadian itu, dan saya akhirnya bisa menjadi guru fisika melalui UPR. Saat saya membaca buku karangan Halliday Reisnick tentang Hukum Newton saat sudah semester 3 tahun 1993, saya tertegun dengan contoh soal yang ditampilkan Pak Halliday dan Pak Reisnick ternyata mirip sekali dengan soal ulangan Mekanika yang saya kerjakan tahun 1989, boh boh boh, ternyata Pa Hari Sasongko itu tidak terlalu cerdas menurut saya tahun 1993 karena sudah ada jawabannya di sini. Saya goblok? tentu tidak.

Kesimpulannya adalah, jikalau anda mengalami hal yang tidak menyenangkan karena ketidaktahuan anda saat ini atau sebut saja karena kebodohan kedunguan kepalengan dan macam-macam sebutan yang jelek. Saya hanya bisa bilang dengan pengalaman tahun 89 tadi, terima saja karena mungkin itu Jalan Ninja yang harus kalian jalani dan lakukan sebelum bergabung menjadi Ninja Koga untuk mengalahkan Ninja Iga yang jahat. Terlebih-lebih Iga Sapi atau tulang belawar bawuy. Jalan Ninja yang saya hadapi sampai saat ini sejak 1989 – 1993 – 2021 silaken hitung sendiri seyogianya sudah membawa pengalaman yang buanyak berwarna dan hangat dalam atmosfera kehidupan saya.

Saya dulu anak baik dan sampai saat ini saya masih anak yang baik, imut, manis, lucu, menggemaskan dan adorable seperti adobe premiere dan after effect, saya harap anda pun demikian. Jika meliat saya murka, cepatlah ganti foto saya dengan Brad Pitt

Om Brad Pitt

Yang saya ingat betul seperti judul tulisan ini adalah kata Albert Einstein, Science without Religion is Blind, artinya adalah kamu belajar Sains tapi ngga percaya sama aja bullshit.

Jadi kamu kalo belajar sesuatu harus percaya dengan yang kamu pelajari, jangan cuma sains doang atau fisika semata, atau biologi aja, atau kimia aja, atau matematika aja. Selama apapun topik yang anda pelajari harus anda percayai sehingga anda dapat menyerap seluruh pengetahuan tersebut dengan tuntas dan matang.

Salam dari Bapack Jadul

Photo by Rene Asmussen on Pexels.com

Science without religion is Blind

One comment

  1. Siap pak rudy, terima kasih atas sharing pengalamannya. Membuat saya dan kawan” termotivasi tentunya dalam segala proses pembelajaran. Semoga, kami semua bisa belajar dengan sebaiknya….stay safe & healthy 🤗💖✨

    Disukai oleh 2 orang

Komentar ditutup.