Kulihat Kelipan Cahaya di Sana

Senja ini kurasa hampa dan tatkala papa Matahari perlahan meredupkan matanya perlahan namun pasti disambut keremangan jingga di ufuk barat, saatnya petugas jaga mulai bersiap di tempatnya berkuasa untuk menjalani kewajiban sebagaimana mestinya.

Keremangan makin dalam dan semakin gahar, nanar mataku bersama menggapai pandangan serta memperkuat akomodasi citra agar tak sesat di kala sel kerucut mulai bertambah populasinya dibanding sel batang dalam bola bola mata yang tidak lagi perkasa seperti di awal fase pemuda.

Sayup-sayup dan pasti kudengar sahut-menyahut panggilan ritus untuk memuja Sang Khalik saat waktunya Magrib akan tiba, berbondong-bondong Kaum Muslim beranjak menuju tempat ibadahnya untuk memanjatkan syukur atas rahmatNYA yang telah diberikan sehingga hari ini telah dilalui dengan baik dan sentosa.

Rangkaian kata-kata takkan berhenti tanpa mencapai muara, sebab di sanalah pemikiran membuang sauhnya untuk berlabuh. Ada kala perahu ide tertambat dan berayun-ayun dalam ombang-ambing gelombang kehidupan, ada pula saatnya perahu itu terhempas ke tepian dan terkapar dihajar energi potensial yang tak terkira dashyatnya.

Sauh jangkar saat sandar harus tetap terikat kuat memberi topangan dan landasan inersia untuk kestabilan atas vibrasi dan rambatan yang menerpa perahu pikiran, pun juga muatan bisa saja tidak usah dibongkar agar kesetimbangan perahu tetap terjaga tegar menghadapi gempuran.

Senja beranjak membiru beralih indigo, mencapai fase kekurangan perona jingga sebab Matahari sudah berbalik badan siap-siap menuju peraduan dan akan diganti kelam panjang 11 jam lamanya sebab rotasi Gaia yang mengaturnya. Rakyat dan hamba yang masih polos dan lugu hanya bisa memandang atau bertahan dalam sandaran sesaat, menikmati keheningan petang.

Selamat menikmati kerinduan, sebab hanya Dilan yang sanggup menanggungnya.

 

Jangan Rindu, Berat …..

Biar Dilan saja ….

2 comments

Komentar ditutup.