Tekanan

Seminggu lalu kita membicarakan mengenai kesetimbangan dan salah satu intermezzo menarik yaitu tentang pendekar pedang panjang Miyamoto Musashi. Minggu ini hingga seterusnya kita kembali membahas mengenai tekanan. Tekanan adalah besaran fisika yang didefinisikan gaya atau berat setiap satuan luas.

30 comments

  1. Nama : Amalia Nindya Ayuputri
    Kelas : XI IPA 4

    Komentar tentang novel Musashi (Hal 91-114)

    Bagian yang saya suka dari novel Musashi, terutama pada halaman yang saya baca adalah ketika Musashi telah mengalahkan salah satu ksatria dari 7 Pilar di kuil Hozoin yang bernama Agon. Karena tak ada lagi hal yang dapat dilakukannya ditempat itu, ia pun memutuskan untuk meninggalkan tempat itu, namun sesosok orang tua bernama Nikkan yang merupakan Kepala Biara Ozoin mengajaknya berbicara di sebuah sel sederhana di belakang tempat latihan. Dalam pembicaraannya itu Nikkan menanyakan siapa nama Musashi, ia juga menanyakan siapa guru Musashi belajar ilmu seni pedang. Musashi berkata bahwa saya tidak pernah punya guru dalam arti sebenarnya. Saya belajar dari segala sumber yang ada, ayah saya mengajarkan saya menggunakan pentungan ketika saya kecil. sejak Musashi berumur 17 tahun, ia memilih untuk berkelana dari satu tempat ke tempat yang lain untuk belajar denga samurai-samurai senior ataupun penantang-penantangnya pada pertarungan adu pedang. Musashi juga mempelajari segala hal yang ia dapatkan di tempat-tempat itu. Ia juga tak lupa belajar dari alam, seperti belajar di gunung-gunung, dan sungai. Ia menganggap bahwa semua itu adalah gurunya.
    Hal ini menarik untuk saya karena dari cerita Musashi ini, saya belajar untuk membuka sumber belajar tak terbatas hanya dari sumber yang telah tersedia, namun harus lebih giat mencari sumber lain, yang tak terbatas hanya dalam ruang lingkup itu-itu saja, namun dari berbagai macam hal lain di luar sana yang juga dapat dijadikan bahan belajar untuk memperkaya ilmu agar menjadi orang yang berwawasan dan berketrampilan lebih dari orang lain yang hanya belajar dari sumber yang tersedia. Kita juga dapat menggali pengetahuan yang selama ini kita tahu lebih dalam lagi. Tak perlu membayar mahal ataupun berguru dengan yang paling ahli, kita sendiri dengan kemauan dan kegigihan pun bisa melakukannya. Belajar dari pengalaman orang lain pun dapat dijadikan sebuah pilihan dalam memperkaya pengalaman hidup seperti Musashi.

    Suka

    • Kelas : IA 4

      Bagian baca 254 – 276.
      Hal yang menarik menurut saya ada pada halaman 257 – 258.
      Saat Tsuge Sannojo, kemenakan dari Watanabe Hanzo melucuti orang – orang yang menangkap Otsu dengan taktik membohongi ketiga orang tersebut, dan berkata :
      “Di kaki bukit ini ada samurai, namanya Miyamoto Musashi, yang siap melakukan pertarungan besar. Dia berdiri di tengah jalan dengan pedang terhunus, dan menanyai tiap orang yang lewat. Matanya paling dahsyat yang pernah saya lihat.” Kata Sannojo kepada ketiga orang tersebut.
      Kemudian ketiga orang tersebut meminta saran pada Sannojo. Dan saran yang diberikan Sannojo yaitu :
      “Hm… Pertama, kalian dapat mengikat perempuan itu pada sebuah pohon dan meninggalkannya. Dengan
      begitu, kalian dapat bergerak lebih cepat.”
      “Kalian jangan ambil jalan ini. Ada jalan yang agak lebih jauh, Anda sekalian dapat menempuh jalan lembah ke Yasugawa dan memberitahu orang-orang di sana tentang semua ini. Kemudian kalian dapat mengepung Musashi dan berangsur-angsur menjepitnya.” (hal. 258). Kemudian dengan muka polosnya mereka bertiga menuruti apa yang di katakan oleh Sannojo.

      Mengapa menurut saya ini menarik, karena hendaknya kita cerdik seperti Tsuge Sannojo yang berhasil dengan mudah membohongi ketiga orang yang menangkap Otsu, agar Otsu dapat bebas. Dan janganlah seperti ketiga orang yang menangkap Otsu, yang dengan mudahnya dibohongi.

      Suka

  2. Kelas : IA 4
    Bagian baca 254 – 276.
    Hal yang menarik menurut saya ada pada halaman 257 – 258.
    Saat Tsuge Sannojo, kemenakan dari Watanabe Hanzo melucuti orang – orang yang menangkap Otsu dengan taktik membohongi ketiga orang tersebut, dan berkata :
    “Di kaki bukit ini ada samurai, namanya Miyamoto Musashi, yang siap melakukan pertarungan besar. Dia berdiri di tengah jalan dengan pedang terhunus, dan menanyai tiap orang yang lewat. Matanya paling dahsyat yang pernah saya lihat.” Kata Sannojo kepada ketiga orang tersebut.
    Kemudian ketiga orang tersebut meminta saran pada Sannojo. Dan saran yang diberikan Sannojo yaitu :
    “Hm… Pertama, kalian dapat mengikat perempuan itu pada sebuah pohon dan meninggalkannya. Dengan
    begitu, kalian dapat bergerak lebih cepat.”
    “Kalian jangan ambil jalan ini. Ada jalan yang agak lebih jauh, Anda sekalian dapat menempuh jalan lembah ke Yasugawa dan memberitahu orang-orang di sana tentang semua ini. Kemudian kalian dapat mengepung Musashi dan berangsur-angsur menjepitnya.” (hal. 258). Kemudian dengan muka polosnya mereka bertiga menuruti apa yang di katakan oleh Sannojo.
    Mengapa menurut saya ini menarik, karena hendaknya kita cerdik seperti Tsuge Sannojo yang berhasil dengan mudah membohongi ketiga orang yang menangkap Otsu, agar Otsu dapat bebas. Dan janganlah seperti ketiga orang yang menangkap Otsu, yang dengan mudahnya dibohongi.

    Suka

  3. Nama : Jefry Julian U.J.
    Kelas : XI-IA4
    Bagian baca : 384-407
    Pada suatu hari Jotaro pergi ke Yanagimachi untuk mencari Musashi. Ia singgah di sebuah tempat yang ternyata adalah perguruan Ogiya. Ia bertanya pada seorang pelayan di tempat itu tentang keberadaan Musashi, tapi bukannya dijawab ia malah diperlakukan kasar. Karena marah Jotaro pun memukul jatuh pelayan tersebut hanya dengan sebuah pedang kayu. Segera setelah kejadian itu ia menjadi dikejar-kejar orang.
    Jotaro pun melarikan diri dari Ogiya. Ia menemukan tempat sembunyi di antara gang-gang, dan tiba-tiba ada seorang gadis, ia mengatakan tahu dimana Musashi berada. Akhirnya ia mengikuti gadis itu hingga sampai di sebuah rumah pertanian milik Yoshino Dayu. Jotaro pun sangat bahagia karena benar bahwa Musashi berada di tempat itu. Jotaro menceritakkan bahwa Otsu dalam keadaan sakit, kemudian membujuk Musashi untuk menjenguknya. Akan tetapi Musashi sama sekali tidak mau menjenguk Otsu, karena ada alasan yang tidak mau diutarakannya. Tetapi Jotaro tidak menyerah membujuk Musashi, hingga akhirnya Musashi pun setuju.
    Malam harinya, setelah meminta izin pada pemilik rumah Musashi dan Jotaro pun pergi. Saat akan melewati gerbang utama, Musashi meminta agar Jotaro melewati jalan lain agar ia lebih aman. Sedangkan ia akan melewati gerbang utama, karena tidak ingin dianggap pengecut. Setelah melewati gerbang utama ternyata ia sudah dikepung oleh murid dari perguruan Yoshioka. Mereka ingin menuntut balas atas perbuatan Musashi yang mengalahkan Seijuro dan Denshichiro, guru dari Yoshioka Kempo.
    Saat akan terjadi pertempuran tiba-tiba datang Itakura, hakim Kyoto yang terkenal sangat adil. Kemudian seorang pemuda maju yang tidak lain adalah Sasaki Kojiro. Ia memberi pendapat bahwa sebaiknya pertempuran dilakukan dengan menetapkan waktu dan tempat yang tepat, karena jika dilakukan saat ini maka hanya akan mengganggu ketertiban masyarakat dan merusak nama baik samurai. Akhirnya, setelah kedua belah pihak yang berseteru menyetujui waktu dan tempat pertempuran, Musashi pun pergi untuk menemui muridnya Jotaro.
    Setelah bertemu Jotaro, Musashi pun melanjutkan perjalanan untuk menemui Otsu. Setelah sampai, Jotaro menunjukkan letak kamar Otsu, akan tetapi Musashi tidak ingin bertemu Otsu. Jotaro sangat marah, Musashi menjelaskan alasannya mengapa tidak ingin bertemu Otsu, karena sebentar lagi Ia akan melakukan pertempuran yang besar, yang kemungkinan untuk dimenangkannya sangat kecil. Ia hanya menitipkan pesan lewat Jotaro agar Otsu melupakannya karena Musashi akan melakukan latihan panjang. Akhirnya Jotaro mengerti dan membiarkan Musashi pergi.
    Di sebuah rumah kecil, Osugi dan anaknya Matahachi mendengar kabar bahwa akan ada pertempuran antara Musashi dengan perguruan Yoshioka. Mereka berencana ingin membantu Yoshioka membunuh Musashi guna mengembalikan nama baik keluarga mereka.
    Di lain tempat, perguruan Yoshioka sedang merencanakan strategi untuk membunuh Musashi, mereka tidak perduli bagaimana pun caranya kali ini Musashi harus mati, walau harus dengan cara curang, yaitu menyembunyikan pasukan penembak. Pertempuran ini atas nama Genjiro, bocah 13 tahun, tapi ia tidak ikut ambil bagian karena terlalu muda.
    Ketika keadaan semakin tegang, datang seseorang yang dikira Musashi, tetapi ternyata ia adalah Kojiro. Ia ingin menjadi saksi, tapi sifatnya ikut campurnya selalu saja muncul. Ia ikut merencanakan cara curang membunuh Musashi.
    Hal yang disuka yaitu 397 karena Musashi tidak egois, ia tahu akan mustahil untuk memenangkan pertempuran dengan Yoshioka, sehingga tidak ingin memberi harapan pada Otsu yang akan membuatnya sedih jika nanti ia mati dalam pertempuran tersebut.

    Suka

  4. kelas XI IA 4
    bagian baca 507-529
    hal yang menarik menurut saya ada pada hal 525-526.
    pada saat sasuke kojiro diserang oleh anak murid dari perguruan obata yang sangat marah karena kojiro yang sangat sombong telah mempermalukan perguruan mereka. dan setelah mengalami dua kali kekalahan mereka tetep tak mau menyerah, pada saat mereka ingin kembali menantang kojiro dengan tantangan resmi ternyata kojiro sudah berada di perguruan mereka. dan kojiro berkata “baiklah,sudah waktunya skarang aku membuka telinga kalian yg bodoh. dengarlah. aku sasaki kojiro. aku belajar seni pedang secara tak langsung dari toda seigen yg agung. aku tahu rahasia2 menghunus pedang yg ditemukan katayama hisayasu. aku ini tak seperti org2 yg urusannya teori, yg kerjanya membaca dan mendengarkan kuliah ttg sun-tzu atau enam rahasia. dlm semangat dan dlm kemauan, kalian dan aku tdk ada persamaan, dan kalian ingat ketika kalian menyerang ketika aku mabuk serta dalam kegelapan apakah aku ketakutan dan pergi ketempat aman?tidak! aku tidak hanya merobohkan setengah dari kalian, tapi kuikuti tukang2 keluyur itu pulang, dan aku menanti disini, langsung dibawah hidung kalian. aku mendengarkan ketika kalian mencoba menyusun pikiran kalian dan aku menimbulkan kejutan kpd kalian. kalau mau, aku dpt menyerang kalian sekarang dan menghancurkan kalian berkeping-keping. itulah makna ilmu militer!itulah rahasia ilmu militer!”. dalam omongan kojiro yang kasar, angkung dan sombong itu berisi hal penting untuk mengajarkan murid2 di perguruan obata ilmu militer yang baik.
    mengapa menurut saya menarik, walaupun kojiro sangat marah dan sangat ingin menghabisi semua org yg menyerangnya itu tetapi dia malah mengurungkan niatnya dan berbalik malah menguliahi murid2 diperguruan obata. kojiro sebenarnya berniat baik agar perguruan obata mendapat pembelajaran militer yg baik namun cara kajiro yg sombong dan sangat lancang telah mengatakan studi militer obata itu dangkal dan tak dapat diandalkan membuat murid2 perguruan obata pun marah dan ingin membalas dendam. yg intinya “sebesar apapun pengetahuan kita dan sepintar apa pun kita sebaiknya kita tdk sombong dan menghargai org lain serta tdk merendahkan org lain”.

    Suka

  5. Hal yang dibaca 24-46

    HAL 31
    “Apa bukan tugas samurai untuk mengabdi kepada atasan dengan jujur dan tak kenal lelah? Apa bukan tugas Kapten menunjukkan kebajikan kepada rakyat yang membanting tulang demi daimyo? Coba lihat diri sendiri, Kapten! Kau menutup mata pada kenyataan bahwa kau menarik para petani dari kerja yang menghasilkan makanan mereka sehari-hari. Kau bahkan tidak memikirkan sama sekali anak buahmu. Kau mestinya melakukan misi resmi, tapi apa yang kaulakukan? Setiap ada kesempatan, kaulahap makanan dan minuman orang lain yang diperoleh dengan susah payah, dan kaugunakan kedudukanmu untuk mendapat penginapan yang paling menyenangkan. Aku berani mengatakan, kau adalah contoh korupsi yang klasik. Kauselimuti diri dengan kekuasaan atasanmu untuk menghamburkan tenaga rakyat jelata, untuk tujuan-tujuan pribadimu sendiri.”

    Alasan saya menyukai bagian ini :
    Seorang pemimpin yang seharus nya mengabdi kepada rakyat dan mengsejahterakan kehidupan rakyat tetapi pemimpin tersebut malah melahap hak serta hasil kerja keras rakyat yang sudah susah payah dikerjakan itu dan mengambilnya dengan cara mengatas namakan jabatannya untuk kepentingan dirinya sendiri.

    Dari bagian ini saya menyimpulkan bahwa bagaimana cara baik menjadi seorang pemimpin yang jujur,baik,mengabdi kepada rakyat dan bijak, serta tidak memenuhi hasrat kepuasaan pribadi sendiri dengan menyiksa rakyat jelata.

    Suka

  6. Kelas : XI IA 4
    Hal yang dibaca : 691-713
    Bagian yang disukai : Hal 703
    Saat Ushinosuke meminta kepada Hyogo agar dia menjadi salah satu samurai untuk menjaga Hyogo, Hyogo mengajak Unshinosuke untuk ke dojo. Saat Ushinosuke bersiap mengambil pedang kayu dari pohom ek,Hyogo pun melakukan hal yang sama. Walaupun saat latihan bertarung ushinosuke kalah, tetapi Hyogo sangat menyukai semangat anak tersebut. Menurut pendapatnya teknik yang digunakan Ushinosuke sangat baik,terbukti saat Ushinosuke dapat melompati bahunya saat terdesak tadi.

    Alasan menyukai halaman tersebut :
    Karena saya sangat menyukai semangat Ushinosuke, walaupun dia orang baru dalam dunia samurai dia memiliki semangat yang tinggi. Selain itu Ushinosuke dapat membuat seorang samurai yang hebat seperti Hyogo terkesima akan kelincahannya, sepertinya Ushinosuke memang mempunyai naluri sebagai seorang samurai yang handal. Jadi pesan yang saya dapatkan dari penggalan cerita diatas : jangan menilai seorang tidak bisa memiliki keahlian diatas kita hanya karena dia seorang pemula dalam suatu bidang yang sama dengan kita .

    Suka

  7. Kelas : XI IA 4
    Halaman yang dibaca : 346-368
    Bagian yang disukai : Hal 347
    Di bagian:
    ( SAMPAI hari meninggalnya, ayah Musashi tak berhenti mengingatkan Musashi akan leluhurnya. “Aku
    Memang hanya samurai desa,” katanya, “tapi jangan sekali-kali lupa, marga Akamatsu pernah terkenal dan perkasa. Hal itu mesti menjadi sumber kekuatan dan kebanggaanmu.”
    Karena berada di Kyoto, Musashi memutuskan untuk mengunjungi Kuil Rakanji. Di dekat kuil itu Keluarga
    Akamatsu pernah memiliki rumah. Marga itu sudah lama runtuh, tapi ada kemungkinan Musashi
    menemukan catatan tentang leluhurnya di kuil itu. Seandainya tak dapat menemukannya, ia masih dapat
    membakar dupa untuk mengenang mereka.
    Sampai Jembatan Rakan yang melintasi Kogawa Hilir, ia merasa sudah sampai dekat kuil itu, karena kata
    orang kuil itu terletak agak ke timur dari tempat beralihnya Kogawa Hulu menjadi Kogawa Hilir. Ia bertanya
    pada orang-orang sekitar tempat itu, tapi tidak berhasil. Tak seorang pun pernah mendengar tentang kuil itu.
    Ia kembali ke jembatan, berdiri memandang air jernih dangkal yang mengalir di bawahnya. Belum lama
    Munisai meninggal, tapi rupanya kuil itu sudah dipindahkan atau hancur, tidak ada lagi sisa-sisanya atau
    kenangannya.
    Dengan malas ia memandang pusaran putih yang sekali muncul sekali menghilang, kemudian muncul dan
    menghilang kembali. Melihat lumpur yang menetes-netes dari petak berumput di tepi kiri, ia menyimpulkan
    bahwa lumpur itu berasal dari bengkel pengasah pedang.)
    Alasan menyukai halaman tersebut : Meskipun marga nya sudah lama runtuh, ia tetap berusaha mencari catatan tentang leluhurnya,meskipun pada akhirnya musashi tidak menemukannya

    Suka

  8. Kelas : XI IA4
    Bagian yang dibaca : 645-667
    Diantara 22 halaman tersebut, saya paling menyukai cerita dihalaman 662. Berikut beberapa penggalan dari cerita tersebut :

    Menghindari sabit berarti menempatkan diri langsung di arah gerak bola. Musashi tak dapat mendekat untuk melakukan pukulan. Dengan kalut ia bertanya pada diri sendiri, berapa lama ia dapat bertahan dengan cara demikian. “Jadi, begini ini rupanya?” tanyanya …………….. Terlambat sudah untuk lari ke balik pohon. Kalau sekarang ia lari ke sana, barangkali ia akan bertemu dengan musuh lain. ………….. Bagi Baiken, faktor terpenting adalah jarak dengan lawan. Keunggulannya terletak dalam memanfaatkan panjangnya rantai. Kalau Musashi dapat bergerak satu kaki saja ke luar jangkauan rantai, atau menghampiri satu kaki saja lebih dekat, Baiken akan mengalami kesulitan. Ia harus berusaha sebaik-baiknya agar Musashi tidak melakukan kedua hat itu. Musashi kagum akan teknik rahasia orang itu, tapi sambil kagum, tiba-tiba terpikir olehnya bahwa itulah prinsip dua pedang. Rantai menjadi panjang, bola berfungsi sebagai pedang kanan, sabit pedang kiri. “Ya! Tentu!” serunya penuh kemenangan. “Itulah dia Gaya Yaegaki!” Dan dengan keyakinan akan menang, ia melompat mundur, membuat jarak dua meter dengan musuhnya. Ia pindahkan pedangnya ke tangan kanan, lalu ia lontarkan lurus ke depan, seperti anak panah. Baiken berkelit dan pedang pun melesat, menghunjam ke akar sebatang pohon, tak jauh dari situ. Tapi ketika la berkelit, rantai membelit tubuhnya. Belum lagi ia sempat berteriak, Musashi sudah mengempaskan seluruh berat tubuhnya ke atasnya. Baiken mengulurkan tangan sampai sejauh gagang pedangnya, tapi Musashi mematahkan usahanya dengan tetakan tajam ke atas pergelangannya. Sebagai kelanjutan gerakan tersebut, ia tarik senjata itu hingga membelah tubuh Baiken, seperti kilat membelah pohon. Sambil menurunkan pedang, ia berkelit sedikit.

    Pada penggalan cerita diatas sangat terlihat jelas bahwa Musashi sangat berhati-hati dalam berperang. Caranya melawan musuh dan bertahan juga menggambarkan dirinya yang cerdas. Hal itu sangat menarik bagi saya, karena dalam pengalan cerita tersebut kita diajarkan untuk tenang, berhati-hati dalam mengahadapi hal sulit sekalipun.

    Suka

  9. Kelas : IA 4

    Bagian baca 139 – 161
    Hal yang menarik menurut saya ada pada halaman 143.
    Saat Jotaro mengantarkan surat dari Mushasi untuk Shido Kizaemon. Saat itu, Kizaemon menyangka anak kecil yang bernama Jotaro itu hanya anak-anak yang ingin melihat keindahan Dojo yang indah yang berada di puri tersebut, dan hanya ingin sesaat bersenang-senang di bawah bayangan guru besar di negeri ini. Namun, Jotaro tak membiarkan surat gurunya itu tak tersampaikan, Jotaro pun berkata : “tuan tak boleh menilai orang hanya dari penampilannya saja, saya bukan pengemis”, lalu dilanjutkannya : “kenapa tidak anda lihat surat ini? Mungkin isinya lain sekali dengan yang tuan duga. Lalu apa yang tuan lakukan nanti. Apa tuan akan menyuruh saya memotong kepala tuan?.
    Di bagian ini menurut saya menarik, karena keberanian dan ketangguhan Jotaro agar tujuan tercapai, Jotaro berusaha keras dengan menggunakan lidahnya yang pandai itu agar berhasil mencapi tujuannya. Jotaro pun tak ingin kalah beradu mulut dengan guru besar sekali pun, karena walau bagaiman pun tujuannya harus tercapai.

    Suka

  10. Kelas : XI IA4
    Bagian yang dibaca : 622-644
    Diantara halaman tersebut, saya paling menyukai cerita dihalaman 623. Berikut cerita dari halaman tersebut :

    dengan kulit tebal, tidak tahan aku tinggal di sana, kalau papan-papan itu dipasang. Kaulihat sendiri apa
    yang mereka katakan.”
    Ion menyeringai. “Memikirkannya saja saya jadi gila.”
    “Tapi kenapa pula kau marah?”
    “Saya tidak tahan. Ke mana pun saya pergi, tak ada yang bicara baik tentang Bapak.”
    “Tak ada yang dapat kuperbuat dalam hat itu.”
    “Bapak dapat merobohkan orang-orang yang menyebarkan desas-desus
    itu. Bapak dapat memasang papan-papan sendiri buat menantang mereka.”
    “Tak ada gunanya memulai perkelahian yang tak dapat kita menangkan.”
    “Bapak takkan kalah dari sampah masyarakat itu. Tak mungkin.”
    “Tidak, kau keliru. Aku akan kalah.”
    “Bagaimana mungkin?”
    “Karena jumlah. Kalau kupukul sepuluh, akan datang seratus lagi. Kalau kukalahkan seratus, akan datang
    seribu. Tak ada kemungkinan menang dalam keadaan macam itu.”
    “Berarti Bapak akan terus ditertawakan orang selama hidup?”
    “Tentu saja tidak. Seperti semua orang lain, aku bertekad memiliki nama harum. Aku berutang budi pada
    nenek moyangku. Dan aku bermaksud menjadi orang yang tak pernah ditertawakan. Itulah yang mau
    kupelajari di stnt.
    “Kita bisa saja berjalan terus, tapi saya kira kita takkan menemukan rumah. Bagaimana kalau kita mencoba
    mencari kuil buat tinggal lagi?”
    “Itu bukan gagasan jelek, tapi sebenarnya yang kuinginkan adalah menemukan tempat yang banyak
    pohonnya, dan membangun rumah kita sendiri.”
    “Macam Hotengahara lagi, ya?”
    “Tidak. Kali ini kita takkan bertani. Kupikir, barangkali aku akan melakukan semadi Zen tiap hari. Kau bisa
    membaca buku-buku, dan aku memberikan pelajaran main pedang padamu.”
    Mereka memasuki dataran itu dari desa Kashiwagi, pintu masuk Koshu menuju Edo. Mereka menuruni
    lereng panjang itu dari Junisho Gongen, kemudian menelusuri jalan sempit yang berkali-kali seakan
    menghilang di antara rumput musim panas yang mengombak. Ketika akhirnya mereka sampai di bukit kecil
    yang ditumbuhi pinus, Musashi melakukan pengamatan cepat atas dataran itu, dan katanya, “Ini cocok
    sekali.” Baginya, tempat mana pun bisa menjadi rumahnya-bahkan lebih dari itu: di mana pun ia berada,
    itulah alam semesta.
    Mereka meminjam peralatan dan menggaji seorang buruh dari rumah pertanian terdekat. Cara Musashi
    membangun rumah sama sekali tidak canggih: sesungguhnya la masih dapat belajar cukup banyak dengan
    mengamati burung-burung yang sedang membuat sarang. Hasilnya, yang selesai beberapa hari kemudian,
    tampak aneh. Rumah itu kurang kokoh dibandingkan rumah pertapa di gunung, tapi tidak sekasar gubuk.
    Tiang-tiangnya dari balok yang masih berkulit, sedangkan sisanya dari gabungan kasar papan, kulit kayu,
    bambu, dan miskantus.
    Musashi mundur untuk memperhatikan rumah itu balk-balk, kemudian ujarnya sambil berpikir, “Rumah ini
    tentunya mirip rumah yang didiami orang banyak pada zaman dewa-dewa.” Satu-satunya yang
    mengimbangi keprimitifan rumah itu adalah lembar-lembar kertas yang ditata sedemikian rupa dengan
    penuh cinta, menjadi shoji kecil.
    Hari-hari berikutnya, suara Iori sudah mengalun dari belakang kerai buluh. la mengulang-ulang

    Pada cerita diatas sangat terlihat jelas bahwa Musashi adalah orang yang sangat menyukai hidup bebas dialam. Mengembara dan hidup jauh dari perkotaan membuatnya merasa sangat dekat dengan alam. Musashi juga belajar tentang hidup dari alam, sehingga membuatnya sangat mencintai alam. Hal itu yang baik utuk dijadikan contoh bagi kehidupan kita saat ini, yang dimana banyak orang tidak menghargai alam dan merusak alam dengan seenaknya.

    Suka

  11. XI-IA-4
    Halaman yang dibaca 530-552
    Halaman yang menarik 533.
    Disitu Musashi mengatakan :
    “Kalau saya dapat memukul Bapak, apa Bapak akan mengatakan ya?”
    “Coba dulu, dan lihat.” Musashi tertawa.
    Sannosuke mencengkeram erat senjatanya dan menyerbu ke depan, seperti orang kesurupan. Musashi tak
    kenal belas kasihan. Berkali-kali anak itu dipukulnya di bahu, di wajah, di tangan. Setiap kali si anak mundur
    terhuyung jauh, tapi selalu kembali menyerang.
    “Sebentar lagi dia pasti menangis,” pikir Musashi.
    Tapi Sannosuke tak hendak menyerah. Ketika tongkatnya patah dua, ia menyerang dengan tangan kosong.
    “Apa yang kaulakukan, orang kerdil?” bentak Musashi dengan sikap marah yang disengaja. Ditangkapnya
    obi anak itu dan dibantingnya si anak ke tanah.
    “Bajingan besar!” teriak Sannosuke yang sudah berdiri lagi dan menyerang kembali.
    Musashi menangkap pinggangnya dan mengangkatnya ke udara. “Cukup?”
    “Tidak!” teriak anak itu, sekalipun matanya sudah basah, dan tangan serta kakinya menggapai-gapai sia-sia.
    “Kubanting kau ke batu di sana, dan kau akan mati. Menyerah, tidak?”
    “Tidak!”
    “Keras kepala, ya? Apa tak lihat, kau sudah kalah?”

    Pada cerita diatas, Sannosuke atau Iori, meminta dengan memohon pada Musashi agar ia dijadikan murid Samurainya. Namun, Musashi tak begitu saja menerima Sannosuke. Ia menjanjikan kepada Sannosuke menjadi muridnya, asalkan Sannosuke bisa melawannya terlibih dahulu dan itu untuk melihat kemampuannya. Sannosuke sangat sekali ingin menjadi seorang samurai, karena Ayahnya ingin ia seperti kakeknya yang seorang samurai.
    Tak ada kata menyerah ketika ia melawan Musashi, sampai- sampai Musashi menyuruhnya untuk menyerah. Namun, Sannosuke tak begitu saja menyerah. Walaupun ia dengan jatuh bangun melawan Musashi ia tak menyerah. Melihat kesungguhannya, Musashi menerima Sannosuke menjadi muridnya.
    – Alasan:
    Saya menyukai karakter Sannosuke yang padahal baru berusia 12 tahun, tetapi memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi seorang Samurai yang seperti diinginkan Ayahnya.

    Jangan menyerah begitu saja untuk keinginan yang memang kita impi- impikan, dan teruslah berusaha untuk menggapai keinginan dengan mengusahakannya hingga tercapai!

    Suka

  12. Kelas : XI IA 4
    Bagian yang dibaca : 277 – 300

    Halaman yang paling saya sukai dari novel Musashi adalah pada halaman 300 yang mengisahkan tentang pertarungan antara Seijuro dan Musashi yang berakhir dengan kekalahan Seijuro. Akibat dari pertarungan ini, lengan kanan Seijuro menjadi lebih panjang dari lengan kirinya dan lengan kanannya tidak dapat berfungsi kembali sehingga Seijuro menyuruh muridnya dari Perguruan Yoshioka untuk memutuskan lengan kanannya tersebut. Namun, sebelum Ueda, muridnya bergerak untuk memutuskan lengan kanan Seijuro, Kojiro lah yang lebih dulu maju dan memutuskan lengan kanan Seijuro hingga putus.

    Bagian ini menarik bagi saya, karena bagian ini mencerminkan sikap para samurai yang lebih baik mati atau memutuskan salah satu bagian tubuhnya yang terluka daripada menanggung malu akibat kalah bertarung dari samurai lainnya (dalam hal ini diperlihatkan dari tokoh Seijuro). Yang dapat dipelajari dari cerita ini adalah agar kita dapat lebih menghargai hidup dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang di berikan Tuhan untuk hidup.

    Suka

  13. Nama : Febrina Putri Nilawati
    Kelas : XI IA-4

    Dari beberapa bagian novel Musashi yang telah saya baca dari halaman 301-324, ada satu bagian yang saya sukai, yaitu pada saat Musashi bertemu dengan seorang ahli seni, yang bernama Koetsu (hal : 304). Bertemunya Musashi dengan Koetsu dan ibunya yang mempunyai nama biara Myoshu, menciptakan suasana baru bagi Musashi. Hal tersebut dikarenakan mereka adalah orang asing yang gaya hidupnya penuh dengan ketenangan dan kedamaian. Dari cara bertutur kata yang sangat lembut, hingga cara mereka dalam bertingkah laku yang penuh sopan santun dan membuat Musashi sangat kagum. Sangat jauh berbeda dengan Musashi yang terbiasa hidup disiplin dengan latihan keras serta tidak sedikit pun mengenal sisi kehidupan yang lebih beradab seperti kehidupan Koetsu dan ibunya. Dengan tabiat Musashi yang sangat jauh berbeda dari mereka, Musashi tetap mencoba belajar dengan penuh kerendahan hati. Saat ia memperhatikan Koetsu sedang berkonsentrasi untuk melukis garis-garis air yang mengalir dari suatu kali yang sempit, sesuatu tersirat dalam benaknya. Berkali-kali Koetsu mencoba untuk menangkap gerakan air mengalir itu,namun ia masih belum mendapat sentuhan yang tepat. Semua itu membuat Musashi terpikirkan akan kehidupannya yang bermain pedang. Musashi berpikir bahwa melukis tidak semudah kelihatannya. Hal tersebut sama dengan dirinya sewaktu menghadapi musuh dan ujung pedang yang sudah di depan mata. Ada tahap yang menuntutnya harus bangkit mengatasi dirinya, tapi bukan menjadi suatu kepuasan yang lengkap baginya saat pedang melukai lawan. Menurutnya Koetsu masih memandang air sebagai musuhnya. Oleh sebab itulah ia tak dapat melukisnya. Air harus menjadi bagian dan dirinya, baru ia akan berhasil.
    Saya menyukai bagian tersebut karena ada banyak hal yang dapat kita teladani dari Musashi yang disamping mencerminkan sosok berjiwa ksatria, juga mempunyai rasa sosial dan kemanusiaan yang tinggi, disertai dengan kerendahan hati. Musashi tidak menganggap bahwa dengan kekalahan musuhnya merupakan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya, atau suatu kepuasan untuk memenuhi setiap ambisi dan egonya. Selain itu, dari caranya memandang kesulitan Koetsu dalam melukis gerakan air yang mengalir pada kali sempit itu mencerminkan pribadi Musashi yang penuh dengan pengendalian diri. Disamping harus mempelajari diri sendiri dengan keahlian yang ada, kita juga harus belajar untuk mempelajari orang lain agar apa yang ingin kita raih dapat terpenuhi, tentunya dalam arti yang positif.

    Suka

  14. KELAS : XI-IA4

    HALAMAN YANG SAYA BACA 756-779

    “ Musashi tak suka menjadi pujaan khalayak. Dilihat dari perbuatan besarnya, memang tak dapat dihindari lagi, ia akan dijadikan pahlawan. Tapi ia sendiri tidak mengejar hal itu. Yang diinginkannya adalah kesempatan lebih banyak untuk bersemadi. Ia perlu mengembangkan keselarasan, untuk menjamin agar gagasan-gagasannya tidak melampaui kemampuannya bertindak. Melalui pengalamannya yang baru
    dengan Gudo, ia telah maju selangkah lagi di jalan menuju pencerahan. Dan ia mulai merasakan sukarnya mengikuti Jalan itu dengan lebih peka Jalan panjang dalam menempuh hidup. “Namun…,” pikirnya. Di mana ia akan berada, kalau semua itu bukan demi kebaikan orang-orang Zang mendukungnya? Apakah ia akan tetap hidup? Apakah ia akan mengenakan pakaian? Kimono berlengan pendek hitam yang dikenakannya saat itu khusus dijahit untuknya oleh ibu Koetsu. Sandal barunya, topi
    anyaman baru yang dipegangnya, dan semua yang dibawanya sekarang, adalah pemberian orang yang menaruh penghargaan kepadanya. Nasi yang ia makan ditanam orang lain. Ia hidup dari karunia kerja orang lain. Bagaimana ia dapat membalas segala yang telah mereka perbuat baginya?
    Apabila pikirannya menjurus ke arah ini, kebencian terhadap tuntutan para pendukungnya jadi berkurang. Namun demikian, rasa kuatir akan mengecewakan mereka akan terus terasa.”

    Bagian ini sangat menarik bagi saya karena Musashi itu tidak suka menjadi pujaan khalayak karena banyak perbuatan besar yang sudah ia lakukan yg dapat menjadikan dirinya sebagai pahlawan. Disini hendaknya kita mengikuti jalan pikiran musashi walaupun kita sudah berbuat baik kepada orang lain atau berbuat sesuatu yang menguntungkan dan berguna bagi smua orang kita tidak perlu meminta balas budi atau imbalan karena Tuhanlah yang akan memberikan lebih dari sesuatu yang kita berikan pada orang itu untuk kita seperti apa yang dirasakan musashi pada cerita ini. jadi janganlah segan untuk berbuat kebaikan 😀

    Suka

  15. XI IA 4

    Cerita Musashi yang paling menarik bagi saya adalah bagian yang ada dari halaman 614-617 dengan judul ELANG . di sini menceritakn tentang sasaki kojiro yg diuji utk bisa jd abdi keluarga Tadatoshi. Setelah tadatoshi mengajukan pertanyaan untuk Kojiro, beberapa orang yang memperhatikan tanya jwb itu berpikir bahwa Kojiro terlalu muda untuk memperoleh nama baik yg sudah dimilikinya. Mereka menganngap remeh kemampuan Sasaki Kojiro. Lalu Tadatoshi meminta Kojiro untuk memberikan demonstrasi mengenai kemampuan berpedangnya dengan melawan salah seorang di ruangan itu. Tadatoshi kemudian memilih Okatani Goroji. Okatani Goroji umumnya diakui sebagaiyg terbaik. Ia tdk hanya pernah ikut dalam pertempuran, melainkan jg berlatih dengan rajin & menemukan tehnik-tehnik nya sendiri.
    Ternyata Okatani juga meremehkan Kojiro, hal ini terlehat ketika ia melilitkan secarik kain basah pada ujung lembing yg ia gunakan supaya tdk melukai Kojiro. Namun Kojiro ,meminta okatani tdk melakukan hal itu. lalu Kojiro memilih sebilah pedang kayu sepanjang 1 meter. Ternyata pertarungan tersebut hanya berlangsun g sebentar dan dimenangkan oleh Kojiro. Dengan melukai dan meremukkan pinggul atau tulang paha kiri Okatani.

    Alasan menyukai halaman tsb:
    Saya sangat terkesan dengan Kojiro yg dengan tengan menghadapi situasi dimana ia diremehkan oleh orang di sekitarnya. Seharusnya kita tdk boleh menganggap remeh seseorang hanya dari cara dia berbicara, tapi kita harus mencari tahu terlebih dahulu kemampuan sesungguhnya orang tersebut.

    Suka

  16. Kelas: XI IPA 4

    Halaman yang dibaca: 416 – 439
    Halaman yang menarik: 416 – 417

    Halaman yang menarik untuk dibaca berada di halaman 416. Ketika Musashi menyatakan perasaan yang sebenarnya pada Otsu ketika Musashi ingin meninggalkan Otsu untuk melawan orang-orang Yoshioka. Di saat itu Otsu mengatakan kesediaannya untuk mati bersama Musashi karna Otsu sangat mencintai Musashi. Namun Musashi melarang Otsu mati bersamanya. Musashi mengatakan Otsu adalah orang pengecut yang dengan mati sia-sia bagaikan serangga.
    Pada halaman ini juga Musashi mengatakan perasaan yang sebenarnya ia rasakan ketika bertemu Otsu di jembatan Hanada. Di jembatan Hanada Musashi terlihat dingin dan acuh terhadap Otsu. Tapi nyatanya bukan itu yang dirasakan Musashi.
    “Sekarang aku mengerti, kenapa bertahun-tahun lamanya aku berbohong padamu, juga pada diri sendiri.
    Aku tidak bermaksud menipumu ketika kita lari dari desa, atau ketika aku melihatmu di Jembatan Hanada,
    tapi aku tolol menipumu-dengan berpura-pura dingin dan tak acuh. Padahal bukan itu perasaanku.
    “Sebentar lagi aku mati. Yang akan kukatakan ini, itulah yang benar. Aku cinta padamu, Otsu. Akan kubuang
    segalanya jauh-jauh dan kuhabiskan umurku denganmu, sekiranya saja…”
    Setalah Musashi mengatakan semua perasaannya, lalu ia meninggalkan Otsu (pada halaman 417) yang sendiri menatap kepergiaan Musashi walaupun sebenanrnya Otsu tidak inginkan.

    Alasan saya menyukai halaman 416 & 417 karena bagian ini sangat menyentuh hati saya. Bisa dikatakan ini bagian galau maksimal. Saya tidak dapat membayangkan ketika saya berada diposisi seperti Otsu ketika menghadapi kenyataan dan kekhawatiran yang megadahsyat bahwa seseorang yang kita cintai akan pergi melawan banyak orang, dan ia pergi hanya seorang diri dengan samurai yang ia katakan adalah pelariannya. Dan juga perasaan tulus yang dikatakan Otsu pada Musashi dia bersedia mati bersama Musashi. Musashi pun terlihat bagai pahlawan yang tidak ingin membiarkan wanitanya mati konyol bersama dirinya.

    Suka

  17. Kelas : IX IA-4
    Halaman yang dibaca : 208-230
    Halaman yang menarik : 213

    Yang menarik pada halaman ini, pada saat Paman Gon, Osugi, Matahachi dan ibunya sedang berada di warung teh tepi pantai. Matahachi yang sedang kesal meninggalkan Paman Gon dan Osugi, sementara ibunya berlari mengejarnya. Dan diwarung teh tersebut hanya tinggal Paman Gon dan Osugi. Paman gon yang tengah asyik minum sake tersebut tak sengaja melihat seorang gadis yang sedang berdiri dalam bayangan pohon-pohon pinus, memandang kosong ke laut, dan kemudian ia berlari menyebrangi pasir dan masuk ke tengah laut. Paman Gon mencoba untuk menolong gadis itu. Dari warung teh, Osugi menjerit kepada Pasman Gon dan berkata, “Goblok! Orang tua Goblok! Kemana kamu pergi!”. Padahal Paman Gon lebih tua dari Osugi tetapi ia berani sekali berbicara seperti itu pada Paman Gon…
    Alhasil niat Paman Gon untuk menolong gadis itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Akemi, mereka berdua ikut terhanyut di tengah laut tersebut. Osugi panik, ia pun memanggil penduduk setempat untuk membantu menolong mereka. Saat mereka tengah menyelamatkan mereka, Paman Gon masih menggenggam tangan Akemi, walaupun mereka belum sadarkan diri. Dan anehnya, sekalipun rambut Akemi kusut dan kacau, pupur dan lipstiknya tidak terhapus, dan ia tampak seakan masih hidup. Dan bahkan dengan giginya yang masih menggigit bibir bawah, mulutnya yang ungu seperti menampakkan gerak tawa.
    Tak lama kemudian, Akemi sadar dan bernafas kembali. Sedangkan Paman Gon sudah tidak bernyawa lagi, karena sebelum ia menolong Akemi, Paman Gon sudah minum sajke terlalu banyak.
    Yang di tolong mati, sedangkan yang ingin bunuh diri hidup lagiii….

    Suka

  18. Kelas XI IA 4

    Halaman yg saya baca pada hal 780-802.
    Cerita yg menarik menurut saya dari novel musashi yaitu terdapat di hal 800-802 saat Musashi ingin mulai bertarung dengan Kojiro. “Musashi! Kau terlambat lagi, ya? Apa itu strategimu? Menurutku, itu cara pengecut! Sekarang ini dua jam lewat waktu yang ditentukan. Aku datang jam delapan, tepat seperti kujanjikan. Aku menanti!” Musashi tak menjawab. “Rupanya kau sengaja ingin menjatuhkan lawan dengan memaksanya menunggu. Akal macam itu takkan membawamu ke mana-mana, kalau lawanmu Ganryu. Sekarang siapkan dirimu dan maju dengan berani, supaya angkatan kemudian takkan menertawakanmu. Ayo maju dan bertempur, Musashi!” “Sesudah menanti cukup lama, sampai ombak mengempas ke batu karang dan surut kembali ke laut, Musashi tiba-tiba berkata dengan suara tenang, “Kau kalah, Kojiro!”. “Apa?” Ganryu kaget setengah mati. “Pertarungan sudah selesai. Kau kalah, kataku.” “Kau bicara apa?” “Kalau kau bakal menang, kau takkan membuang sarung pedangmu. Kau telah membuang masa depanmu,
    hidupmu.” “Kata-kata saja! Omong kosong!” “Sayang sekali, Kojiro. Sudah siap jatuh? Kau mau cepat?” “Ayo… ayo maju, bajingan!” “Ho-o-o!” Teriakan Musashi. Kedua orang itu saling pandang. Musashi, yang berada dua-tiga langkah dari air, membelakangi laut. Ganryu menghadapinya dengan pedang teracung tinggi dalam kedua tangan. Hidup mereka berdua sama-sama terserap ke dalam pertarungan mematikan itu, dan keduanya sama-sama kosong dari pikiran sadar. Adegan pertempuran itu terhenti sempurna. Tapi di pos-pos penantian dan di atas bunyi ombak, tak terhitung jumlahnya orang menahan napas. Di atas Ganryu melayang-layang doa dan harapan orang-orang yang percaya kepadanya dan menginginkannya hidup terus.Sedangkan di atas, Musashi doa dan harapan dari orang-orang lain lagi. Dari Sado dan Iori yang ada di pulau itu. Dari Otsu,
    Osugi, dan Gonnosuke di pantai Shimonoseki. Dari Akemi dan Matahachi di bukit mereka di Kokura. Seluruh doa mereka tertuju ke surga. Di sini harapan, doa, dan dewa-dewa tak mampu membantu, tidak juga kesempatan. Yang ada hanya kekosongan tidak berpribadi dan sepenuhnya tidak memihak. Apakah kekosongan ini, yang demikian sukar dicapai oleh orang hidup, merupakan ekspresi jiwa yang sempurna, yang telah berhasil mengatasi pikiran dan gagasan-gagasan yang lebih mulia? Dalam sesaat, pulau itu senyap dan diam, seperti sebelumnya. Hanya gemeresik pohon pinus dan rumput yang berayun-ayun mengejek kerapuhan dan kefanaan umat manusia. Musashi memperhatikan segumpal awan kecil di langit. Ketika itulah jiwanya kembali ke tubuhnya, dan baru waktu itulah ia melihat beda antara awan dan dirinya, antara tubuhnya dan alam semesta. Apa gerangan yang memungkinkan Musashi mengalahkan Kojiro? Keterampilannya? Bantuan para dewa? Musashi tahu bahwa bukan itu jawabannya, namun ia tak pernah dapat mengungkapkan alasan itu dalam kata-kata. Sudah pasti alasan itu sesuatu yang lebih penting daripada kekuatan ataupun pertolongan dewa. Kojiro meletakkan keyakinannya pada pedang kekuatan dan keterampilan. Musashi mempercayakannya pada pedang semangat. Itulah satu-satunya beda di antara mereka.
    Tapi pertempuran sudah usai. Sudah waktunya ia pergi. Manusia tak pernah meninggalkan rasa cinta dan benci selama hidupnya. Gelombang perasaan datang dan pergi, bersama seiring dengan waktu. Sepanjang hidup Musashi, ada saja orang-orang yang membenci
    kemenangannya dan mengecam tingkah lakunya pada hari itu. Dikatakan, ia bergegas pergi karena takut akan pembalasan. Ia bingung. Ia bahkan lalai memberikan pukulan untuk mengakhiri derita Kojiro.

    Alasan :
    Dari penggalan cerita yg sudah saya rangkum dapat disimpulkan menurut saya bahwa Musashi sosok yg terlalu cepat dalam mengambil tindakan dan tidak berhati-hati tiap tindakan yg ia perbuat saat bertarung dengan kojiro. Ia berpikir tidak akan lagi menjumpai lawan seperti kojiro. Ia merasa kagum dan rasa hormat. Ia berterima kasih kepada Kojiro atas apa yang telah diberikan kepadanya. Dalam hal kekuatan, dalam hal tekad tempur, Kojiro setingkat lebih tinggi dari Musashi. Justru karena itulah Musashi terpaksa mesti meningkatkan kemampuan dirinya sendiri, hingga bisa lebih hebat lagi dari Kojiro.
    Sepanjang hidup Musashi, ada saja orang-orang yang membenci kemenangannya dan mengecam tingkah lakunya. Manusia tak pernah meninggalkan rasa cinta dan benci selama hidupnya

    Suka

  19. Kelas: XI IA 4

    Menurut saya bagian yang menarik pada halaman 324-345 adalah bagian saat bertemunya Matahachi dan ibunya yang saat itu sedang bersama Otsu di depan Hongando. Setelah Osugi menyuruh Otsu untuk pergi duluan dan menunggunya di Chirimazuka, Osugi bertemu putranya. Pertemuan Osugi dan Matahachi yang diwarnai perdebatan. Osugi yang menginginkan agar anaknya itu membunuh Otsu yang dengan tangannya sendiri karena menganggap Otsu adalah penghianat. Otsu mencintai Musashi padahal statusnya dulu adalah tunangan Matahachi. Awalnya Matahachi menentang niat ibundanya karena ia sangat mencintai Otsu. Tetapi Osugi tetap bersikeras hingga akhirnya Osugi melontarkan pilihan sulit, Matahachi harus memilih Otsu atau Osugi. Jika dia tetap memilih untuk tidak membunuh Otsu untuk ibunya maka Osugi akan menghabisi nyawanya sendiri tepat di depan Matahachi. Akhirnya Matahachi menyerah, ia memilih untuk menuruti kehendak ibunya untuk membunuh Otsu dengan syarat ia akan menemui Otsu di Chirimazuka sendiri tanpa di temani Osugi dan membunuhnya disana. Osugi awalnya ragu namun akhirnya menyetujui. Matahachi menemui Otsu dan membujuknya agar kembali pada Matahachi. Namun Otsu tetap pada pendiriannya, ia tidak mau kembali pada Matahachi dan mengatakan bahwa dia mencintai Musashi. Perdebatan pun terjadi hingga akhirnya Matahachi menarik pedangnya dan bersiap membunuh Otsu. Otsu lari menuruni tepi curam, Matahachi dan Osugi mengejarnya. Kegelapan menyelimuti dasar lembah itu, tapi tak menyurutkan niat Matahachi untuk mencari Otsu. Di dapatinya sosok hitam yang dikiranya itu adalah Otsu dan dengan cepat ditebaskannya pedangnya ke sosok hitam itu dengan membabibuta hingga dia bermandikan darah. Setelahnya Matahachi menyesali perbuatannya yang telah membunuh wanita yang dicintainya karena permintaan ibunya sendiri. Ia jadi lesu dan pucat pasi. Osugi meraba dalam kegelapan, ia berniat untuk memenggal kepala Otsu untuk dibawanya pulang. Namun sayang, ternyata yang dibunuh Matahachi bukanlah Otsu tapi seorang pengemis. Takuan dan pemilik penginapan menemukan Osugi yang berencana melarikan diri dan meninggalkan pengemis yang bersimbah darah itu saat mereka mencari Otsu namun Matahachi maupun Otsu tidak disana.
    Bagian ini menarik bagi saya karena disini Matahachi dihadapkan dengan pilihan yang sulit, harus memilih antara ibunya atau wanita yang dicintainya. Mungkin jika saya dihadapkan pada keadaan seperti itu, saya tidak akan sanggup memilih salah satu dari keduanya apalagi taruhannya adalah hidup atau mati. Mungkin ini salah satu cerita galau dalam keseluruhan cerita Musashi. Selain itu di bagian ini, baik Matahachi ataupun Otsu sama-sama barusaha untuk meraih cinta yang diinginkannya. Matahachi berusaha membujuk Otsu untuk kembali padanya dengan cara meminta maaf dan berusaha menyelamatkan Otsu dari niat ibunya untuk membunuh Otsu jika Otsu ingin kembali padanya. Namun Otsu tidak sependapat, ia terlanjur mencintai Musashi dan bertekad untuk tidak kembali lagi pada Matahachi seberapa keras pun usaha Matahachi untuk membujuknya. Usaha Matahachi dan Otsu ini mengingatkan saya akan usaha-usaha yang saya dan orang-orang di sekitar saya untuk memperoleh apa yang diinginkan. Tak peduli betapa sulit jalannya, tak peduli seberapa besar pengorbanan yang harus dikorbankan demi keinginan itu. Bertekad dan percaya bahwa suatu saat nanti keinginan itu akan terwujud seiring dengan kerja keras kita dalam mewujudkannya.

    Suka

  20. Dio Febrilian
    XI-IA4
    Pada halaman 231-253 saya tertarik dengan beberapa pemikiran yang ada dibenak Musashi dan juga beberapa sikap cerdik dan kemampuan yang dimiliki oleh musashi
    Saya tetarik dengan kata-kata musashi contohnya :
    Musashi belum dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini secara positif. Ia merasa bahwa
    jauh di dalam dirinya terdapat kelemahan, yaitu karena ia tahu dirinya belum matang. ia sadar, dan itu
    mengecewakannya, bahwa ia belum mencapai taraf pikiran seorang guru sejati, bahwa ia masih jauh dari
    seorang manusia yang lengkap dan sempurna. Apabila ia membandingkan dirinya dengan Nikkan atau
    Sekishusai atau Takuan, tak dapat ia mengelak dari kebenaran sederhana ini: ia masih hijau! Analisis yang
    dilakukannya sendiri atas kemampuan dan sifat-sifat dirinya tidak hanya mengungkapkan kelemahan di
    beberapa bidang, melainkan juga kekurangan dalam bidang-bidang lain.
    Tubuhnya bergetar ketika ia memekik, “Aku harus menang, aku harus menang!” Sambil berjalan terpincangpincang
    memudiki Sungai Isuzu, ia memekik lagi agar semua pohon di hutan suci itu mendengar, “Aku harus
    menang!” Ia melintasi air terjun yang tenang dan beku, dan seperti manusia primitif ia merangkak ke atas
    batu-batu besar dan bersusah payah menerobos semak-semak rimbun di ngarai yang dalam, yang
    sebelumnya tak banyak ditempuh orang.

    Disini dia memiliki beberapa pertanyaan yang selalu muncul yang membuat dirinya selalu termotivasi agar dapat menjadi yang terbaik.
    Saya juga tertarik dengan bagian dimana dia bertemu dengan shisido baiken dimana ternyata baiken ingin membunuh musashi karna musashi telah membunuh saudara shisido baiken disini ada beberapa bagian yang bagi saya cukup menarik karna musashi memiliki akal dan intuisi yang baik.
    Diam-diam Musashi meletakkan kembali kepalanya ke bantal dan mencoba menduga apa yang sedang
    terjadi di rumah itu. Ia laksana seekor serangga di bawah selembar daun, yang mencoba meramalkan cuaca
    di atasmya. Seluruh tubuhnya sudah terbiasa dengan perubahan sekecil apa pun di sekitarnya, dan
    sarafnya yang peka betul-betul tegang. Musashi tahu, hidupnva dalam bahaya, tapi dari mana?
    “Apa ini sarang penyamun?” begitu mula-mula ia bertanya pada diri sendiri. Tapi tidak. Kalau mereka
    pencuri betul, tentunya mereka tahu ia tak punya apa-apa.
    “Apa dia dendam padaku?” Itu pun rasanya tidak tepat. Musashi merasa pasti, belum pernah ia melihat
    Baiken sebelumnya.
    Walaupun tak dapat menggambarkan sebabnya, kulit dan tulangnya dapat merasakan bahwa seseorang
    atau sesuatu sedang mengancam hidupnya tahu bahwa apa pun bentuknya, ancaman itu sangat dekat. Ia
    harus memutuskan dengan cepat, apakah akan berbaring menunggu datangnya bahaya, ataukah
    meloloskan diri sebelum tiba waktunya.
    Ia ulurkan tangannya ke atas ambang pintu bengkel untuk mencari sandalnya. Ia selipkan mula-mula
    sebelah sandal, dan kemudian sandal yang lain ke bawah seprai, ke bagian kaki tempat tidur.
    Kincir mainan itu mulai berputar lagi. Dalam cahava api ia berputar seperti bunga yang terkena sihir.
    Langkah-langkah kaki terdengar lirih, baik di dalam maupun di luar rumah, ketika Musashi pelan-pelan
    menggulung tilam menjadi bentuk tubuh manusia.
    Kesimpulan yang saya dapat dari membaca cerita ini walaupun hanya membaca dari halam 231-253 yaitu musashi memiliki kemampuan dan akal yang baik walaupun dia seorang samurai tapi dia patut menjadi contoh baik kecerdikan dan semangatnya.

    Suka

  21. yang menarik dari halaman 599 – 621 adalah

    saat lori yang ingin membantu ibunya untuk membuat acar dengan buah prem
    saat itu Iori sudah mengeluarkan ember kayu kosong dari lemari dinding. Sambil membawa ember, ia pergi ke
    halaman dan menengadah ke pohon prem. Sayang sekali, walaupun ia cukup dewasa hingga menguatirkan
    masa depan, namun ia masih terlalu muda, hingga mudah saja perhatiannya menyeleweng pada seekor
    jangkrik yang sedang berbunyi. Ia pun mendekat, menangkapnya, dan menyekap jangkrik itu dengan
    tangannya, hingga jangkrik itu menjerit seperti perempuan tua ketakutan.
    Iori mengintip lewat kedua ibu jarinya, dan ia memperoleh perasaan yang lain dari yang lain. Serangga
    mestinya tidak berdarah, tapi kenapa jangkrik terasa hangat? Barangkali jangkrik pun mengeluarkan panas
    tubuhnya kalau berhadapan dengan bahaya maut. Tiba-tiba ia diliputi campuran rasa takut dan kasihan.
    Dibukanya telapak tangannya, ia lemparkan jangkrik itu ke udara, dan ia lihat jangkrik itu terbang ke arah
    jalan.

    saya menganggap ini menarik adalah dari lori kita belajar bagaimana menghargai sebuah kehidupan bahkan kehidupan seekor jangkrik sekalipun,
    ketika ia ingin menyingkirkan jangkrik tersebut ia menjadi merasa kasihan dengan jeritan jangkrik tersebut,yang didengarnya seperti jeritan seorang wanita dan jangkrik itu pun mengeluarkan darah dan hawa panas tubuhnya,
    disini kita tahu bahwa kehidupan sekecil apapun itu sangat berharga.

    Suka

  22. Nama : Deriven S.Teweng
    Kelas XI-IA 4
    Hal : 162-184
    saya mendapat bagian hal ini namun jujur saya kurang semangat membacanya karena menceritakan kisah cinta Musashi dan Otsu yang tidak bisa bersemi karena Musashi yang berprinsip menjadi pendekar samurai.Walaupun Otsu selalu mengejar Musashi tapi Musashi ini punya rasa juga terhadap Otsu tapi karena cita-cita Musashi itu hubungan mereka pun tidak terhubung alias kada bapacar.
    Tapi yang membuat saya semangat ketika musuhnya adalah Sasaki Kojiro.dan saya tau nama Musashi yang panjangnya yaitu Musashi Miyamoto. Mereka dua ini ada dalam game PS 2 yaitu Samurai Warrior 2. suatu game yang menceritakan para pendekar samurai terkenal dan perang pada zaman dulu yang terjadi di Jepang. Yuk lanjut baca >>> di http://fisikaven.wordpress.com/2012/04/04/musashi-is-samurai-warrior/

    Suka

  23. KELAS : XI IA 4
    Karen Hapuck
    Halaman : 393 – 415
    Halaman yang menarik : 393
    Sambil tersenyum menyeringai, Sasaki Kojiro berkata, “Saya baru keluar dan joli ketika saya mendengar
    akan terjadi perkelahian. Sudah beberapa waktu lamanya saya kuatir peristiwa ini akan terjadi. Dan saya
    terkejut melihat perkelahian akan terjadi di sini sekarang. Saya bukan anggota Perguruan Yoshioka. Lebih
    lagi saya bukan pendukung Musashi. Tapi sebagai prajurit dan pemain pedang pendatang, saya percaya
    saya dapat menyampaikan imbauan atas nama kode prajurit dan kelas prajurit secara keseluruhan.” Kojiro
    berbicara mantap dan fasih, tapi dengan nada menggurui dan dengan keangkuhan yang tak kenal
    kompromi.
    “Saya mau tahu, apa yang akan kalian lakukan kalau polisi datang kemari? Apa kalian tidak malu ditangkap
    dalam keributan di jalanan? Kalau kalian memaksa penguasa turun tangan, peristiwa ini takkan diperlakukan
    sebagai perkelahian biasa antara orang kota. Ada lagi soal lain.
    “Waktu yang kalian pilih tidak tepat. Juga tempatnya. Suatu aib besar bagi seluruh kelas militer bahwa
    samurai mengganggu ketertiban umum. Sebagai salah seorang anggota kalian, saya peringatkan kalian
    menghentikan segera tingkah laku tak pantas ini. Kalau kalian mesti beradu pedang buat menyelesaikan
    persoalan kalian, demi langit, tunduklah pada peraturan permainan pedang. Pilih waktu dan tempatnya!”
    membaca laman ini saya merasa sasaki kojiro adalah orang yang lebih memikirkan martabat dan harga diri daripada para samurai yang lain
    Halaman : 404

    Genjiro, anak lelaki umur tiga belas tahun, muncul dari joli di sampingnya. Bapak dan anak mengenakan ikat
    kepala putih yang dipasang ketat, sedangkan hakama-nya disingsingkan tinggi-tinggi.
    Genzaemon memerintahkan anaknya pergi berdiri ke bawah pohon pinus. Anak itu mengangguk diam ketika
    ayahnya menepuk kepalanya untuk membesarkan hatinya, katanya, “Pertempuran akan dilaksanahan
    dengan namamu, tapi perkelahian akan dilakukan oleh para murid. Karena kamu masih terlalu kecil untuk
    ambil bagian, kamu tak perlu melakukan apa-apa kecuali berdiri di sana memperhatikan.”
    Genjiro berlari langsung ke pohon itu. Di situ ia mengambil sikap bermartabat, seperti boneka samurai pada Festival Anak Lelaki.

    Menariknya karna seorang bapak menegur anaknya dengan menepuk kepala anakanya karna sang bapa (Genzaemon) merasa sang anak (Genjiro) belum siap untuk ikut dalam pertempuran dan sang anak (Genjiro) pun menuruti apa yang dikatakan oleh bapanya

    Suka

  24. Hal. 76
    Pesuruh, yang sama merasa geli seperti yang lain-lain, pergi dan kembali lagi dengan kabar bahwa tamu itu sewaktu masih kanak-kanak belajar menggunakan pentung dari ayahnya, dan kemudian memungutpelajaran dari prajurit mana saja yang lewat di kampungnya. Meninggalkan rumah ketika berumur tujuhbelas, dan “karena alasan-alasan pribadi” ia pun menenggelamkan diri dalam mempelajari ilmu
    pengetahuan pada umur delapan belas, sembilan belas, dan dua puluh. Sepanjang tahun sebelum itu, ia hanya sendirian tinggal di pegunungan, melulu berguru pada pepohonan dan keheningan gunung. Oleh karena itu, tidak dapat ia menyebutkan suatu aliran khusus atau nama seorang guru. Tapi di masa depan ia berharap akan mempelajari ajaran-ajaran Kiichi Hogen, ahli hakikat Delapan Gaya Kyoto, dan akan berusaha meniru Yoshioka Kempo yang agung dengan menciptakan gayanya sendiri, yang menurut keputusannya akan dinamakannya Gaya Miyamoto. Memang ia memiliki banyak kekurangan, tapi itulah
    tujuannya, dan untuk itulah ia berhasrat bekerja dengan sepenuh hati dan jiwanya.

    Saya memilihnya karene dicerita ini dikatakan bahwa musashi ingin meniru Yoshioka Kempo yang agung dengan menciptakan gayanya sendiri, saya sangat bangga karena walau ia meniru kemempuan orang lain tetapi ia ingin menciptakan nya dengan gaya nya sendiri atau ingin berinovasi atau melakukan sebuah terobosan.

    Suka

  25. KELAS: XI IA-4
    Inti cerita halaman 1-23:
    Pada saat itu hujan telah melanda, Takezo terbangun di antara hamparan mayat-mayat. Mereka telah kalah dalam peperangan karena pengkhianatan Kobayakawa . Takezo pikir ia hanya sendiri dan akan mati. Tapi tiba-tiba Matahachi masih hidup dan menghampirinya. Mereka terluka parah lalu saat tiba-tiba sekumpulan prajurit lewat ,mereka hampir saja tewas terinjak-injak kuda-kuda itu. akhirnya, setelah tenang, mereka memutuskan untuk mencari sebuah tempat terdekat untuk mengobati luka Matahachi yang lebih parah. Walau sempat berdebat, mereka pun tetap melanjutkan perjalanannya.

    Dari bagian tersebut yang menarik bagi saya adalah bagian saat Takezo maupun Matahachi yang tetap berusaha hidup dan saling membantu antara sesama teman. Walaupun mereka sempat berdebat, tp mereka tetap bersatu dan saling tolong menolong untuk menyelamatkan diri.

    Suka

  26. Nama : Vidya Maryantika
    Kelas : XI IA 4

    Halaman yang saya baca yaitu halaman 737 sampai dengan 759. Menurut saya bagian yang menarik ada di halaman 737 dan 740.
    Halaman 740
    Satu orang menembus kegelapan dan mengambil kembali sumbu, kemudian menyalakan dan
    melambaikannya. Musashi jadi menduga bahwa di seberang jembatan terdapat lebih banyak orang. Ia tidak dapat bergerak, setidak-tidaknya sekarang. Kalau ia memperlihatkan diri, kemungkinan akan mengundang lebih banyak tembakan. Sekalipun ia dapat mencapai tepi seberang, bahaya yang menanti di sana barangkali lebih besar lagi. Tapi ia pun tak dapat tinggal lebih lama di situ. Karena orang-orang itu tahu ia belum menyeberang jembatan, mereka akan mengepungnya, dan barangkali akan berhasil menemukan tempat persembunyiannya.
    Mendadak ia mendapat akal. Akal itu tidak didasarkan pada teori-teori Seni Perang yang merupakan serabut intuisi seorang prajurit. Merancang cara menyerang merupakan proses yang lambat, yang sering mengakibatkan kekalahan dalam situasi yang menuntut kecepatan. Naluri seorang prajurit tidak boleh dikacaukan dengan naluri binatang. Seperti halnya reaksi anggota tubuh bagian dalam, naluri itu datang dari gabungan kebijaksanaan dan disiplin. Ia merupakan penalaran terakhir yang melebihi akal, ia adalah kemampuan untuk melakukan gerakan yang benar dalam sekejap mata, tanpa mesti melewati proses berpikir biasa.
    “Sia-sia kalian coba sembunyi!” pekiknya. “Kalau kalian mencariku, aku di sini!” Angin agak kencang waktu itu; ia tak yakin suaranya terdengar atau tidak.
    Pertanyaan itu dijawab oleh tembakan lain. Musashi tentu saja sudah tidak ada di sana lagi. Ketika peluru masih berada di udara, ia sudah melompat tiga meter ke arah ujung jembatan.
    Ia menyerbu ke tengah mereka. Mereka pun menyebar sedikit, dan menghadapinya dari tiga jurusan, namun sama sekali tanpa koordinasi. Ia tebas orang yang ada di tengah dengan pedang panjang, dan serentak dengan itu ia menyayat ke samping, dengan pedang pendek, ke arah orang di sebelah kirinya. Orang ketiga melarikan diri ke seberang jembatan, berlari, terjatuh, dan terlontar ke luar jembatan.
    Halaman 740
    “Lain kali saja,” jawab Musashi ringan. “Saya mesti pergi sekarang. Saya pun belum tahu jalan pulang.”
    “Kalau Anda pulang nanti,” kata Shima, “akan saya minta seseorang menemani Anda.”
    “Waktu saya mendengar dua orang roboh,” Gumbei melanjutkan, “saya datang menjenguk. Ternyata saya tak bisa memahami posisi tubuh dengan lukanya, karena itu saya tanya orang yang berhasil lolos. Menurut kesannya, Anda menggunakan dua pedang sekaligus. Apa itu benar?”
    Sambil tersenyum, Musashi mengatakan bahwa ia tidak pernah menggunakan cara itu secara sadar. Ia beranggapan, apa yang diperbuatnya hanyalah berkelahi dengan satu tubuh dan satu pedang.
    “Anda tak usah merendahkan diri,” kata Gumbei. “Anda ceritakanlah tentang itu. Bagaimana Anda berlatih?
    Bagimana kita mesti meletakkan tekanan, agar kita dapat menggunakan dua pedang sekaligus dengan bebas?”
    Karena melihat bahwa ia takkan dapat meninggalkan tempat itu sebelum memberikan penjelasan, Musashi melayangkan pandang ke sekitar ruangan. Pandangan itu berhenti pada dua pucuk bedil di dalam ceruk kamar, dan ia minta dipinjami. Shima setuju, lalu Musashi pergi ke tengah ruangan, memegang kedua pucuk senjata itu pada larasnya, masing-masing tangan memegang satu bedil.
    Musashi mengangkat sebelah lututnya, dan katanya, “Dua pedang sama dengan satu pedang. Satu pedang seperti dua pedang. Kedua tangan kita ini terpisah satu dari yang lain, tapi keduanya milik tubuh yang sama. Dalam segala hal, penalaran terakhir bukan bersifat ganda, tapi bersifat tunggal. Demikian pula pada semua gaya dan percabangannya. Akan saya tunjukkan pada Anda.”
    Kata-kata itu keluar dengan spontan, dan ketika selesai diucapkan, ia mengangkat satu tangan, katanya, “Maafkan.” Kemudian ia mulai memutar kedua bedil itu. Kedua bedil berpilin seperti gulungan, menimbulkan angin pusaran kecil. Orang-orang yang hadir menjadi pucat.
    Musashi berhenti, dan menarik sikunya ke sisi. Ia berjalan ke ceruk kamar, dan mengembalikan kedua bedil.
    Sambil tertawa kecil, katanya, “Barangkali itu tadi dapat membantu Anda memahami.” Tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, ia membungkuk pada tuan rumah dan pergi. Karena terheran-heran, Shima lupa sama sekali meminta seseorang untuk menemaninya.
    Alasan mengapa menyukai bagian cerita yang ini :
    Karena disana tokoh Musashi ternyata begitu lincah dan lihai memainkan pedang. Sampai – sampai Miyake Gumbei, ahli bela diri Gaya Togun, ingin sekali mengetahui darimana Musashi mendapatkan gaya tersebut. Alasan lain, meskipun dirinya sedang terancam ia tetap bertindak dengan hati – hati dan tetap menggunakan akalnya. Disini tokoh Musashi terlihat cerdas dan pandai dalam teknik bela diri. Padahal dia hanya menggunakan satu pedang untuk membela diri, tetapi dari kesan orang yang lolos dari jangkauan Musashi melihat bahwa Musashi menggunakan dua pedang sekaligus. Dari penggalan cerita ini saya mendapatkan pelajaran jika kita menghadapi suatu masalah tetaplah bertindak dengan hati – hati.

    Suka

  27. MANNUEL XI-IA 4

    475-477
    Serentak dengan itu, dua tubuh yang bergerak seirama senjata masing-masing, mengubah posisi.
    Perubahan itu terjadi lebih cepat daripada beralihnya gambaran dari mata ke otak. Pukulan Gonnosuke tidak
    mengenai sasaran. Secara defensif, Musashi memutar lengan bawahnya dan menyapukannya ke atas dari
    sisi Gonnosuke, ke suatu titik di atas kepalanya, hingga hampir saja mengenai bahu kanan dan pelipisnya.
    Sesudah itu Musashi melepaskan pukulan balik yang hebat, suatu pukulan yang sebelumnya telah
    menyebabkan semua lawannya kerepotan. Tetapi Gonnosuke menahan pedang itu di atas kepala dengan
    tongkat yang dipegang dekat kedua ujungnya.
    Sekiranya pedang itu tidak miring saat mengenai kayu, senjata Gonnosuke pasti terbelah dua. Seraya
    beranjak, Gonnosuke menusukkan siku kiri ke depan dan mengangkat siku kanan, dengan maksud
    memukul jaringan saraf simpatis Musashi. Tetapi pada saat yang seharusnya mendatangkan dampak
    menentukan itu, ujung tongkat ternyata masih kurang satu inci dari tubuh Musashi.
    Karena pedang dan tongkat bersilang di atas kepala Gonnosuke, maka mereka sama-sama tak dapat maju
    atau mundur. Keduanya tahu bahwa gerakan keliru berarti maut mendadak. Sekalipun posisi waktu itu
    serupa jalan buntu: perisai-pedang, lawan, perisai-pedang, namun Musashi sadar akan perbedaan penting
    antara pedang dan tongkat. Tongkat jelas tak punya perisai, tak punya lempengan, tak punya gagang, tak
    punya ujung, tetapi di tangan seorang ahli seperti Gonnosuke, bagian mana pun dari senjata sepanjang
    empat kaki itu dapat menjadi lempengan, ujung, atau gagang. Dengan demikian, tongkat itu jauh lebih
    serbaguna daripada pedang, dan bahkan dapat dipergunakan sebagai lembing pendek.
    Karena tak dapat meramalkan reaksi Gonnosuke, Musashi tak dapat menarik senjatanya. Gonnosuke,
    sebaliknya, berada pada posisi lebih berbahaya: senjatanya hanya memainkan peranan pasif untuk
    menahan lempengan pedang Musashi. Jika ia membiarkan semangatnya guncang sesaat saja, pedang
    akan membelah kepalanya.
    Wajah Gonnosuke pucat. Ia menggigit bibir bawahnya, dan keringat berkilau di sekitar sudut-sudut matanya
    yang menengadah. Kedua senjata yang bersilang itu mulai berguncang, dan napas Gonnosuke menjadi
    berat.
    “Gonnosuke!” teriak ibunya. Wajahnya lebih pucat lagi. Ia mengangkat tubuhnya dan menampar pahanya
    sendiri. “Pahamu terlalu tinggi!” teriaknya. Kemudian ia menjatuhkan diri ke depan. Kesadaran seakan-akan
    meninggalkan dirinya. Terdengar suara seolah ia muntah darah.
    Tampak seolah pedang dan tongkat akan tetap berpaut sampai kedua petarung itu berubah menjadi batu.
    Mendengar teriakan perempuan tua itu, kedua petarung berpisah dengan kekuatan lebih mengerikan
    daripada ketika mereka berpaut.
    Sambil mengentakkan tumit ke tanah, Musashi melompat mundur tiga meter jauhnya. Jarak itu dalam
    sekejap ditutup Gonnosuke beserta panjang tongkatnya. Hampir Musashi tak berhasil melompat ke
    samping.
    Karena serangan maut mi, Gonnosuke terhuyung ke depan dan kehilangan keseimbangan, hingga
    punggungnya terbuka untuk serangan. Musashi bergerak dengan kecepatan elang pemburu, dan kilat
    cahaya kecil pun mengenai otot-otot punggung musuhnya; musuh terhuyung dan jatuh tengkurap, diiringi
    embik anak sapi ketakutan. Musashi duduk bergedebuk di rumput, sambil menangkupkan tangan di perut.
    “Aku menyerah,” teriaknya.
    Tidak terdengar suara apa pun dari pihak Gonnosuke. Ibunya hanya menatap kosong ke sosok yang tak
    berdaya itu. Ia terlalu takjub, hingga tak dapat berbicara.
    “Cuma punggung pedang yang saya pakai tadi,” kata Musashi kepadanya. Tapi karena kelihatannya ibu itu
    tidak memahaminya, katanya lagi, “Bawakan dia air. Lukanya tidak begitu parah.”
    “Apa?” teriak perempuan itu tak percaya. Melihat bahwa pada tubuh anaknya tak ada darah, ia berjalan
    tertatih-tatih ke sisinya dan memeluknya. Ia sebut nama anaknya, ia bawakan air, dan kemudian ia guncangguncangkan
    sampai Gonnosuke sadar kembali.
    Gonnosuke memandang kosong pada Musashi beberapa menit lamanya, kemudian datang mendekat dan
    membungkukkan kepala sampai ke tanah. “Maaf,” katanya pendek. “Anda terlalu baik buat saya.”
    Musashi, yang seperti baru tersadar dari keadaan kesurupan, meraih tangannya, katanya, “Kenapa begitu?
    Kau tidak kalah, akulah yang kalah.” Ia buka bagian depan kimononya. “Lihat ini!” Ia tuding noda merah
    bekas pukulan tongkat. “Sedikit saja lagi, aku terbunuh.” Dalam suaranya terasa getar guncangan, karena
    sesungguhnya ia belum dapat membayangkan kapan dan bagaimana ia mendapat luka itu.
    Gonnosuke dan ibunya menatap tanda merah itu, tapi tidak mengatakan apa-apa.
    Musashi menutup kembali kimononya, dan bertanya kepada perempuan tua itu, kenapa ia memperingatkan
    ada yang keliru atau berbahaya dalam jurus anaknya?
    “Saya bukan ahli dalam soal-soal ini, tapi ketika saya perhatikan dia mengerahkan seluruh kekuatannya
    untuk menahan pedang Anda, terasa oleh saya dia kehilangan kesempatan. Dia tak dapat maju, tak dapat
    mundur, padahal dia terlampau bergairah waktu itu. Tapi saya melihat sekiranya dia mau menurunkan
    pahanya saja, sedangkan letak tangan tetap dipertahankan, ujung tongkat dengan sendirinya dapat
    memukul dada Anda. Semua itu terjadi cuma sesaat. Waktu itu saya sendiri tak sadar akan apa yang saya
    katakan.”
    Musashi mengangguk. Ia menganggap dirinya beruntung, menerima pelajaran bermanfaat tanpa mesti
    membayar dengan hidupnya. Gonnosuke pun mendengarkan dengan takzim. Ia juga memperoleh wawasan
    baru. Apa yang baru saja dialaminya itu bukannya wahyu, melainkan perjalanan ke perbatasan hidup dan
    mati. Ibunya, yang mengerti bahwa ia berada di ambang bencana, telah memberikan pelajaran bagaimana
    bertahan hidup.
    Bertahun-tahun kemudian, sesudah Gonnosuke memantapkan gayanya sendiri dan menjadi terkenal di
    mana-mana, ia mencatat teknik yang ditemukan ibunya saat itu. Walaupun ia menulis cukup panjang
    tentang kesetiaan ibunya dan pertandingannya dengan Musashi, ia tetap menahan diri dan tidak
    mengatakan ia menang. Sebaliknya, untuk selanjutnya kepada orang banyak ia mengatakan kalah,
    walaupun kekalahan itu merupakan pelajaran yang tidak ternilai baginya.
    Sesudah menyampaikan harapannya akan kesehatan yang baik bagi ibu dan anak, Musashi melanjutkan perjalanan dari Inojigahara ke Kamisuwa. Ia tidak tahu bahwa ia terus diikuti oleh samurai yang di sepanjang
    jalan itu terus menanyai tukang kuda di pos kuda dan semua musafir lain. apakah mereka melihat Musashi.

    menurut saya yang menarik dalam kisah ini adalah meskipun kemampuan Musashi sebagai pendekar pedang sangat hebat, ia selalu rendah hati dan menjaga kehormatannya serta kemurahan hati yang luar biasa yang patut kita contoh.

    Suka

Komentar ditutup.