Konflik

http://www2.warwick.ac.uk/fac/arts/history/chm/events/shaw2009/events/flashfights/
http://www2.warwick.ac.uk

Akibat benturan atau kepanikan dalam batin, tidak sedikit yang berujung pada sebuah konflik. Benturan kepentingan, benturan gengsi, benturan keinginan untuk tidak diremehkan dan merasa penting memicu adanya gesekan dan akhirnya menjadi perseteruan.
Perseteruan ada yang kelihatan dan ada yang tidak kelihatan.
Hal ini baru saya rasakan pada akhir perkuliahan di Sabtu kemarin, sebab teman-teman sekelas saya (yang rata-rata berusia di atas 40-an kebanyakan “agak susah” diatur) .. dan akhirnya salah seorang rekan saya “teriris-iris” sembilu perasaannya akibat perkataan saya yang begitu menusuk dengan telak 😦 … Saya merasa MENYESAL sudah mengeluarkan kata-kata yang tidak sebagaimana mestinya tersebut 😦 (tapi menyesal kemudian tidaklah berguna, karena dunia ini akan terus bergulir mencapai kesetimbangannya sendiri)

http://cdn.holytaco.com/
http://cdn.holytaco.com/

Konflik di mana pun dapat terjadi dari skala lokal hingga skala masif (kerusuhan massa atau kerusuhan regional). Tidak mustahil akibat konflik antara dua pihak yang sebenarnya bukan masalah prinsip bisa bergeser bisa menjadi konflik berskala nasional JIKA TIDAK DITANGANI SEGERA!
Konflik dapat diminimalisir jika kedua belah pihak serta salah satu pihak mau mengalah dan mau mendengarkan kesulitan atau kepentingan pihak lain (PADAHAL CARA SEPERTI INI SANGAT SUULITTTT DILAKUKAN !) atau Salah satu pihak lebih baik menjauh hingga keadaan calm down atau cool down terlebih dahulu baru kemudian HARUS ADA mediasi dari pihak ketiga (walaupun tidak diundang tetapi MEDIASI ini sangat diperlukan jika kedua belah pihak yang tengah atau saling berseteru tidak dapat mendinginkan perasaan atau emosinya!)

Dalam “dunia” yang tengah saya geluti setiap jumat dan sabtu kadang-kadang sampai hari minggu, tidak ada definisi kepentingan yang pasti (pseudo-goals) .. sehingga semua komponen organisasi “kelas saya” seolah-olah hidup dan bergerak menurut keinginannya masing-masing tanpa punya empati yang jelas dan simpati yang kental. Mungkin seperti itu pula gambaran Dunia Persilatan 😀 sepertinya terlihat terorganisir tetapi sesungguhnya dunia tersebut carut-marut-bekarut 😆
Akhirnya sebuah cara pandang dan menjadi pendekatan terhadap kelompok besar muncul dalam benak anggota kelas “yang terpinggirkan atau merasa ditinggalkan” hingga empati dan simpati yang semestinya telah tumbuh dan ada hilang (sirna) begitu saja atau pelan-pelan rasa kebersamaan itu memudar (yang lalu mencari teman-teman yang sehati, serasa senasib – sesuai istilah sad always looking for friends) yang kemudian membentuk kelompok-kelompok tertentu dan dengan terbentuknya kelompok-kelompok atau sempalan-sempalan ini suatu saat dapat menjadi penghalang (barrier) bagi kemajuan “dunia” jika ditinjau secara keseluruhan.

ACTUALLY … konflik tidak dapat dihindari pada suatu saat ! Nah, pertanyaannya … Bagaimana konflik ini dikelola ?

Pertanyaan yang menggantung jika dipandang dari segi normatif, tapi dari segi holistik konflik HARUS BISA dikelola ! Dalam kasus saya, pengelolaan konflik dikelola dengan :

  1. membiarkan kedua pihak cooling down (hingga suasana mendingin)
  2. segera lakukan perbaikan sistem kelas atau tata kelas yang berubah agar tidak ada yang merasa kepentingannya tidak dilayani atau tidak terwakili dalam pengambilan keputusan kelompok
  3. Setelah kedua pihak cooling down, kedua pihak harus SELALU MENYADARI potensi konflik yang dapat muncul jika ada PENCETUSNYA ..
  4. Hindari faktor PENCETUS agar konflik tidak muncul dan tidak menjadi konflik meluas dan mengatur TATA KELAS kembali (re-arrange) – bagaimana menghindarinya … baca urutan ke-5 berikut :
  5. Selalu (berusaha) menahan diri (sekuat-kuatnya) sambil mempertimbangkan BAIK – BURUK atau UNTUNG-RUGI jika konflik dimunculkan, atau konflik diteruskan, bahkan jika KONFLIK DIBIARKAN !
  6. Jika Usaha nomor 5 tidak berhasil, pilihannya adalah MUNDUR (resign) atau SEGERA MENYELESAIKAN URUSAN BERSAMA KELOMPOK INI SECEPAT-CEPATNYA AGAR TIDAK BERURUSAN LAGI DENGANNYA !
  7. Jika semua usaha diatas tidak berhasil semua dijalan, satu-satunya pilihan SERAHKAN KEPADA TUHAN YANG MAHA KUASA dan KABUR (run)  untuk masuk kelompok lain (entering other group) atau CUKUP BERURUSAN SENDIRI KE PIHAK OTORITAS TANPA HARUS DIWAKILI DENGAN KELAS ATAU KELOMPOK ATAU GRUP ATAU APAPUN YANG NAMANYA BERSAMA-SAMA (no-community involved).

Simaklah syair lagu berikut :

Di dalam hati ini hanya satu nama
Yang ada di tulus hati ku ingini
Kesetiaan yang indah takkan tertandingi
Hanyalah dirimu satu peri cintaku

Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai
Huuuuuu

Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai
Huuuuuu

Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi
courtesy OriginaLyric.Info
Bukankah cinta anugerah berikan aku kesempatan
Tuk menjaganya sepenuh jiwa oooh

(aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda)

Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

(aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda)

Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

Diambil dari http://www.originalyric.info/marcell-peri-cintaku-lyrics

2 comments

Komentar ditutup.